<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217</id><updated>2012-01-18T14:21:54.909+07:00</updated><category term='Citiwalk'/><category term='Airport'/><category term='Train Station'/><category term='Pets'/><category term='Jakarta'/><category term='Farming Land'/><category term='River'/><category term='Culture'/><category term='Kitten'/><category term='Photography'/><category term='Shopping Mall'/><category term='Java'/><category term='Statue'/><category term='Train'/><category term='Sumatera'/><category term='Mountain'/><category term='Beach'/><category term='Transportation'/><category term='Singapore'/><category term='Animal'/><category term='Lake'/><category term='Bandung'/><category term='Food'/><category term='Duck'/><category term='Cat'/><category term='Street'/><category term='Jogjakarta'/><category term='City'/><title type='text'>Jejak Kaki</title><subtitle type='html'>Ke mana pun angin berhembus menuntun langkahku&lt;br&gt;
Memahat takdir hidupku di sini&lt;br&gt;
Masih tertinggal wangi yang sempat engkau titipkan&lt;br&gt;
Mengharumi kisah hidupku ini -- PADI</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-3605009031845688476</id><published>2012-01-18T14:21:00.002+07:00</published><updated>2012-01-18T14:21:54.929+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitten'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pets'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Animal'/><title type='text'>Kucing Kucing di Kantor</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Saat masih tinggal di kantor lama di Cikarang, khususnya waktu kantor berada di Ruko Roxy, ada beberapa kucing yang sempat singgah dan tinggal di kantor juga menemaniku. Ada yang cuma mampir minta makan dan numpang nginep, tapi tak bertahan lama. Tapi ada dua kucing yang sempat sengaja aku pelihara di loteng ruko.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Aku sendiri bukan pecinta kucing, tapi aku gak masalah dengan binatang peliharaan. Apalagi semakin lama yang tinggal di kantor makin berkurang, jadi ada untungnya juga punya kucing sebagai teman dan untuk mengisi waktu luang. Setelah aku pindah kantor dan tempat tinggal, kepikiran buat berkisah tentang kucing-kucing yang sempat mampir di kantor, yang tidak hanya lewat tapi sempat menjadi bagian dari kantor meskipun sebentar.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-urM2QDKwg4g/TxZTv6e8HVI/AAAAAAAAGWc/XwijwH1k9wI/s1600/20080521_02.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-urM2QDKwg4g/TxZTv6e8HVI/AAAAAAAAGWc/XwijwH1k9wI/s200/20080521_02.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Yang pertama adalah Anggoro. Kucing ini tergolong kucing yang hobi mampir ke kantor, baik untuk minta makan ataupun menginap. Aku tidak memeliharanya secara langsung, tapi dia sering datang ke kantor lewat atas ruko, kadang tidur di atas, tapi sering juga dia turun dan masuk ke ruangan kantor untuk tidur di antara meja-meja kantor. Nama Anggoro sendiri pemberian dari Deni, plesetan dari anggora.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Anggoro termasuk lama berada di kantor, bisa dibilang berbulan-bulan, meskipun tidak rutin. Dia datang dan pergi sesuka hati, kadang saat datang wajahnya memelas minta makan.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-q10lQ28grHE/TxZTww6vmLI/AAAAAAAAGWg/lGJrCeMGcNg/s1600/20090701_02.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-q10lQ28grHE/TxZTww6vmLI/AAAAAAAAGWg/lGJrCeMGcNg/s200/20090701_02.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu pagi, waktu itu aku sering tidur di lantai satu, aku mendengar ada suara kucing kecil mengeong cukup keras. Penasaran, aku menengok keluar dan mendapati ada seekor kucing duduk di tengah jalan sambil mengeong. Merasa iba, aku langsung membawanya masuk ruko dan kuberi minum. Waktu sarapan, sengaja aku memilih menu yang ada telor dan daging, ternyata dia mau.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kucing ini suka berkeliaran, dan uniknya sempat masuk ke kamar mandi dan berdiri di toilet. Beruntung aku sempat mengabadikan momen itu, jadi terkesan kucingnya buang air di toilet heheheh ... padahal dia cuma nongkrong. Saat pertama kutemukan, moncongnya terlihat hitam, kupikir memang warnanya seperti itu. Tapi setelah Arik memandikannya, moncong kucing kecil itu dibersihkan, ternyata bukan warna kulit melainkan kotoran. Kucing ini lucu, dan suka tidur di kasurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa hari aku terpaksa berbagi kasur dengan kucing kecil manja ini. Kucing ini kuberi nama Yanti. Kalau teman-teman tanya, kok namanya Yanti, kujawab: gabungan dari diYan TrIsni wkwkwkw ...&amp;nbsp;Tapi kucing ini gak lama di kantor, sepertinya gak sampai seminggu. Suatu hari aku pergi ke Jakarta dan kucing ini pergi keluar kantor dan tak kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah berikutnya adalah kucing-kucing yang sengaja kupelihara di kantor, dan mereka cukup jinak, gak keluyuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-u8ye8vsKITg/TxZTxmxs1_I/AAAAAAAAGWs/e93Q0AMnVdY/s1600/20100320_64.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-u8ye8vsKITg/TxZTxmxs1_I/AAAAAAAAGWs/e93Q0AMnVdY/s320/20100320_64.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pertama adalah Katrok. Mengapa namanya Katrok? Iseng aja, spontan. Terlintas dalam benakku, kalau cewek kan namanya Catty, nah kalau cowok biar agak pas ya Cattrock aka Katrok :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing ini aku temukan di jalan. Suatu sore aku dan Wahyu berniat membeli makan sambil jalan-jalan ke arah cluster MyHome, karena ada warteg yang cukup bersih, murah dan enak. Di sebuah selokan dekat sawah aku mendengar suara kucing kecil berwarna &lt;i&gt;orange&lt;/i&gt;. Aku hampiri dia dan aku usap-usap sebentar, eh dia mengikutiku. Aku mempercepat jalan hingga kucing itu tertinggal dan berhenti mengejar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/--7UN8tFd0w8/TxZTyluY2II/AAAAAAAAGW0/gVVnOIH-s1g/s1600/20100328_88.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/--7UN8tFd0w8/TxZTyluY2II/AAAAAAAAGW0/gVVnOIH-s1g/s200/20100328_88.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;Sepulang dari warteg aku sengaja membeli ikan goreng, siapa tahu aku ketemu lagi dengan kucing kecil tadi. Ternyata benar, kucing kecil itu masih ada di tempat semula, masih mengeong di antara rerumputan. Aku coba panggil dia, kalau memang dia mau terus mengikuti, akan aku pelihara. Jarak dari kantor ke tempat kucing itu berada sekitar 300 meter. Kucing itu terus mengikutiku, meskipun sempat berhenti sejenak, namun terus mengejarku. Ya sudahlah, aku pelihara saja. Aku letakkan di lantai atas, di loteng tempat kami mencuci baju, menyimpan baju dan kadang kupakai tidur juga (ada dipan kayu yang bisa dipakai). Esoknya aku memandikan kucing itu biar lebih segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-_IQyfqW1QVo/TxZT0l7l3jI/AAAAAAAAGXE/x9uI-14XEDo/s1600/20100422_19.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-_IQyfqW1QVo/TxZT0l7l3jI/AAAAAAAAGXE/x9uI-14XEDo/s200/20100422_19.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Katrok ternyata tergolong kucing yang lincah, sangat lincah. Dia suka berlarian, memanjat tembok dan rak buku, serta ketika mampu, dia memanjat hingga atap dan loteng jeruji besi. Kadang dia bermain ke atap tetangga, namun selalu pulang saat aku panggil. Anehnya, dia tidak berani turun tangga. Paling banter dia duduk di anak tangga paling atas, tidak lebih. Heran, benar-benar kucing kuper. Kalau ada kucing liar yang datang, dia ngumpet ketakutan. Pernah aku menjumpai dia sedang meringkuk di anak tangga paling atas dengan bulu-bulu berdiri. Ternyata ada kucing liar yang datang, padahal ukuran fisiknya hampir sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4ILknIFNjtE/TxZTzr43aZI/AAAAAAAAGW4/8oODFqRw1fw/s1600/20100410_14.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-4ILknIFNjtE/TxZTzr43aZI/AAAAAAAAGW4/8oODFqRw1fw/s200/20100410_14.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Sayangnya, Katrok kurang disiplin dalam hal buang air. Dia sering buang air di sembarang tempat, bahkan seringkali buang air besar di tumpukan baju kami. Apalagi kalau dia sakit. Aku sudah sediakan tumpukan pasir di luar, dan memang lebih sering dia gunakan pasir itu untuk buang air. Sayangnya terkadang dia masih suka buang air sembarangan juga. Kadang aku kasihan dengan teman-teman yang bajunya kena kotoran kucing dan kalau aku tahu, aku sengaja mencucikan pakaian mereka karena akulah yang memelihara kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang paling sering adalah Katrok pipis di kasur dan selimutku. Dia memang suka tidur di atas selimut diantara kakiku, dan sering saat bangun tidur aku mendapati selimutku sudah basah oleh kencing si Katrok. Sangat menjengkelkan. Kadang saat aku baru menggelar kasur, dia langsung meloncat di atasnya dan .... kencing!. Kurasa dia menemukan tempat yang empuk dan nyaman untuk buang air. Aku coba mengatasi dengan meletakkan koran di atas kasur di bawah sprei. Entah mengapa cari itu berhasil, meskipun saat kasur kupakai jadi bunyi kresek-kresek dari kertas koran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing kedua yang kupelihara di kantor berwarna hitam putih. Aku panggil dia Eki, alasannya sederhana: di kantor ada yang bernama Eko dan Eka :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gGGE5Js0WpA/TxZT1tS0VrI/AAAAAAAAGXM/O38eXMKw6AA/s1600/20100426_02.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-gGGE5Js0WpA/TxZT1tS0VrI/AAAAAAAAGXM/O38eXMKw6AA/s320/20100426_02.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Kucing ini juga aku temukan tidak sengaja waktu aku pulang dari beli makanan bersama Wahyu. Sebenarnya aku gak sadar kalau ada kucing kecil di pinggir jalan karena kondisi jalan agak gelap saat itu. Justru Wahyu yang menyadari adanya kucing kecil di antara kerikil dan aspal, persis di depan cluster Napoli. Fisiknya lebih kecil dibanding Katrok waktu pertama kutemukan, jadi aku gak bisa berharap dia akan mengikuti hingga kantor. Kuperhatikan tempat dia berada jauh dari rumah-rumah warga ataupun warung. Aku kasihan dan memutuskan untuk memeliharanya. Untuk mendramatisasi ukuran kucing yang mungil, aku taruh di kantong bajuku dan meminta Wahyu memotret hehehe. Bayi kucing itu nampak kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-NDgkuMmhh5o/TxZT3F7XmrI/AAAAAAAAGXU/U5-odFZX2Ro/s1600/20100428_10.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-NDgkuMmhh5o/TxZT3F7XmrI/AAAAAAAAGXU/U5-odFZX2Ro/s200/20100428_10.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Ternyata memang Eki sangat kelaparan waktu kutemukan. Di rumah masih ada sisa makanan dan Eki langsung melahapnya dengan rakus. Katrok yang merasa terancam dengan kedatangan kucing asing di daerah kekuasaannya mulai mengganggu. Dia berani karena ukuran fisik Eki jauh lebih kecil. Berkali-kali Katrok mencoba mencakar dan menggigit Eki, tapi Eki yang kelaparan tidak terlalu peduli, tetap rakus melahap makanan yang ada. Lama-lama aku kasihan dan memisahkan Eki dari Katrok, meletakkan Eki di atap ruko tetangga. Tetap saja Katrok mengejar meskipun tidak segencar semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-zDykipwcHY8/TxZT4cO9gKI/AAAAAAAAGXc/TWzafM0rkq4/s1600/20100509_47.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-zDykipwcHY8/TxZT4cO9gKI/AAAAAAAAGXc/TWzafM0rkq4/s200/20100509_47.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Selama dua hari aku melihat Katrok masih memusuhi Eki dan aku masih memisahkan mereka. Aku sempat frustrasi dan berencana mengeluarkan Eki dari rumah, daripada disiksa oleh Katrok. Tapi kata Arik, Katrok sebenarnya tidak benar-benar memusuhi Eki. Mungkin awalnya iya, karena merasa terganggu, tapi hari-hari selanjutnya justru sikap Katrok itu adalah sikap teman yang mengajak bermain. Sayangnya ukuran fisik mereka gak sebanding, dan Eki belum berminat untuk bermain karena masih terlihat kelaparan. Di hari ketiga ternyata mereka mulai akrab dan aku tidak lagi memisahkan mereka. Makin lama mereka makin akrab bahkan tidurpun sering bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dcYWsZu2yo8/TxZT5dXM4GI/AAAAAAAAGXk/XZoTv_Ea46M/s1600/20100601_01.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-dcYWsZu2yo8/TxZT5dXM4GI/AAAAAAAAGXk/XZoTv_Ea46M/s200/20100601_01.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Tak lama setelah Eki kutemukan, dia sempat "menghilang". Ceritanya aku mendapati Katrok pipis di atas kasur busaku, yang kain penutupnya sudah mulai berlubang sehingga busanya terlihat. Aku segera mencuci kasur itu, tapi hanya bagian yang dikencingi saja dan langsung kujemur keluar. Anehnya, Eki sudah tidak kelihatan lagi. Aku coba panggil gak muncul juga. Cuma ada Katrok yang terus aktif bermain. Suara Eki memang kecil waktu awal-awal kutemukan, jadi mengeong-pun tidak kencang. Waduh, hilang kemana. Gak mungkin dia kabur jauh, wong belum bisa melompati tembok atau naik ke atap seperti Katrok. Gak mungkin dia keluar ruko, karena dia harus turun ke bawah sementara saat itu sudah malam dan ruko juga sudah ditutup. Aku mondar-mandir &amp;nbsp;di atas atap ruko itu, mencari di setiap sudut tempat, kolong, tumpukan baju dan kardus, tetap saja tidak kutemukan. Sedih juga rasanya meskipun baru ketemu beberapa hari dengan Eki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku mulai pasrah dan menenangkan diri, sayup-sayup aku dengar suara kucing, sangat lirih dari arah jemuran. Aku keluar dan mencari tiap sudut. Saat itu gelap karena di bagian luar memang tidak ada lampu. Tetap aku tidak menemukan. Kudengar lagi suara lirih kucing mengeong. Lama-lama kok sepertinya suara itu ada di kasur yang sedang kujemur. Mungkinkah ada kucing di situ? Penasaran, aku geledah kasur itu.... dan benar. Eki sedang bergelantung di kasur, dengan ketakutan menancapkan kukunya di kasur agar tidak jatuh. Rupanya dia ada di dalam kasur itu, di rongga antara busa dan kain penutupnya, dan aku tidak menyadarinya. Cukup lama dia bergelantungan di situ dengan ketakutan. Ah, lega juga rasanya. Besoknya Eki mencret :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-iqz1l24UCrE/TxZT6UxdSEI/AAAAAAAAGXs/7d-f857fj8o/s1600/20100605_06.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-iqz1l24UCrE/TxZT6UxdSEI/AAAAAAAAGXs/7d-f857fj8o/s200/20100605_06.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Eki sedikit lebih tertib dibanding Katrok dalam hal buang air dan Eki lebih rakus dalam urusan makan. Katrok terkesan memilih-milih, tidak suka nasi atau makanan kucing yang kering. Katrok lebih suka ikan atau daging, sedangkan Eki kadang masih mau makan nasi, telur atau makanan kering. Tapi Eki punya kebiasaan lebih menyebalkan saat tidur. Kalau Katrok cukup puas tidur di dekat kakiku, tidak demikian dengan Eki. Dia paling suka tidur di atas bantal, dan seringkali kepalanya disandarkan ke leherku. Sudah berulang kali kuusir dengan kulempar ke lantai, tetap saja dia kembali dan menduduki bantalku dan menempel di leherku. Yang paling kurang ajar, dia berjalan di atas badanku, dan seringkali mengendus-endus wajahku. Tapi berbeda dengan Katrok yang kuper, Eki suka keluyuran. Dia tidak takut menuruni tangga dan keluyuran di ruangan kantor, bahkan sampai lantai 1. Waktu itu kantor merupakan ruko dengan 2 lantai, dan di atas (atap/loteng) ada bangunan semi permanen, disitulah aku memelihara kucing. Dian dan Dessy sering protes karena Eki keluyuran di ruang kantor, apalagi saat berada di dekat kaki mereka. Biasanya aku langsung menyuruh Arik untuk membawa Eki ke atas dan menutup pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku menikah dan tinggal di Jakarta, terpaksa aku melepaskan kucing-kucing itu. Kontrakanku waktu itu tidak memungkinkan untuk memelihara kucing, meskipun istriku adalah pecinta kucing sejati dan merasa senang dengan Katrok dan Eki. Apalagi di kantor tidak ada yang mau memelihara kucing itu dan aku merasa gak enak kalau kucing itu menjadi gangguan. Beberapa hari setelah aku pindah ke Jakarta, aku bawa Katrok dan Eki keluar ruko dan melepas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katrok sangat ketakutan saat aku bawa turun tangga, sampai terkencing-kencing. Parahnya, aku tidak mengantisipasi hal itu, dan bajuku basah kena air kencing kucing itu. Katrok yang biasanya jinak, saat berada di luar ruko, tempat yang asing bagi dia, langsung menjadi seperti kucing liar. Dia bingung dan berlarian kemana-mana. Waktu kupanggil pun dia tidak mendekat, malah merasa seperti tidak kenal. Aneh. Tidak demikian dengan Eki. Memang dia merasa aneh dengan lingkungan yang baru, namun dia tetap mengenaliku. Beberapa kali dia mencoba masuk kembali ke kantor, dan waktu aku ketemu Eki dia masih mengenaliku dan mendekatiku untuk minta makan. Eki masih sempat terlihat setelah beberapa minggu aku lepaskan, namun aku tidak pernah lagi melihat Katrok sejak hari pertama aku melepas dia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-3605009031845688476?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/3605009031845688476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=3605009031845688476&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/3605009031845688476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/3605009031845688476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2012/01/kucing-kucing-di-kantor.html' title='Kucing Kucing di Kantor'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-urM2QDKwg4g/TxZTv6e8HVI/AAAAAAAAGWc/XwijwH1k9wI/s72-c/20080521_02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jalan Mohammad Husni Thamrin, Kawasan Industri, Bekasi, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.319201448577262 107.1137809753418</georss:point><georss:box>-6.321174448577262 107.1113134753418 -6.3172284485772625 107.11624847534179</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-4158378637197120045</id><published>2011-10-24T17:50:00.001+07:00</published><updated>2011-11-11T09:29:57.217+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Duck'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Food'/><title type='text'>Makan Bebek Dimana?</title><content type='html'>Bebek adalah salah satu makanan favoritku. Alasannya sederhana, selain karena rasanya yang khas, juga karena aku sedikit jenuh dengan daging ayam. Bukan sombong, tapi menu masalah ayam begitu mudah ditemukan, - dari warteg, restoran cepat saji hingga restoran mahal di mall. Tidak demikian dengan menu bebek. Makanya kalau ada kesempatan, biasanya aku lebih memilih menu bebek dibandingkan ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa waarung bebek yang menjadi favoritku belakangan ini. Aku bukan tipe pemburu kuliner. Aku hanya makan di tempat sekitarku saja, atau tempat-tempat yang sering kukunjungi karena dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wNd-jYGE6lM/TryFXqEoNAI/AAAAAAAAGUA/A6BlFSUJ630/s1600/2011-10-07+12.09.55.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-wNd-jYGE6lM/TryFXqEoNAI/AAAAAAAAGUA/A6BlFSUJ630/s200/2011-10-07+12.09.55.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Nasi Bebek Khas Jatim&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Di bawah jembatan layang (&lt;i&gt;flyover&lt;/i&gt;) Kebayoran Lama, agak depan toko Kemenangan, ada warung bebek khas Jawa Timur yang menjadi kesukaanku. Aku mulai menemukan ini sejak kakakku masih tinggal di Gang Baru III (sekitar tahun 2009), dan kalau ada kesempatan (biasanya pagi) aku menyempatkan diri beli makan di sana. Bebeknya empuk, sambalnya tidak terlalu pedes. Ada sambal ijo yang maknyusss, tapi yang lebih membuatku kangen adalah bumbu khas yang gurih lezat (gak tahu namanya apa). Kekurangan tempat ini adalah lokasinya yang kurang higienis, serta ukuran bebeknya yang minimalis. Biasanya aku pesen 2 porsi bebek dengan 1 nasi putih. Harganya masih terjangkau, 14 ribu rupiah. Kalau cuma 1 bebek dan nasi putih, harganya cuma 8 ribu. Istriku yang biasanya tidak suka bebek pun menyukai makanan di tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wNd-jYGE6lM/TryFXqEoNAI/AAAAAAAAGUA/A6BlFSUJ630/s1600/2011-10-07+12.09.55.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-j3BTatUNXSU/TryDhL4Fp4I/AAAAAAAAGT4/igBD7M8jcMg/s1600/20110921_05.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-j3BTatUNXSU/TryDhL4Fp4I/AAAAAAAAGT4/igBD7M8jcMg/s200/20110921_05.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="font-size: 13px; text-align: center;"&gt;Nasi Bebek Rica&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Warung bebek favorit selanjutnya ada di daerah Halim, tepat di Jalan Permata, sampingnya kantor pusat BKKBN, Jakarta Timur. Aku menemukan tempat ini gak sengaja, waktu berniat mencari tempat alternatif buat makan siang. Pilihan makanan di sekitar kantorku cukup terbatas -- warteg ma padang --, jadi kadang aku bosan. Lokasi warung ini agak jauh kalau dijangkau dengan jalan kaki dari kantorku, tapi hitung-hitung olahraga, toh pulangnya bisa naik angkot. Daging bebek di warung ini dimasak rica, pedes banget menurut standardku. Sepertinya yang jual juga orang Jawa Timur, dan selain menyediakan menu nasi bebek rica, warung ini juga menyediakan nasi soto Surabaya. Harganya juga masih terjangkau, 12 ribu per porsi, dan ukuran daging bebeknya juga cukup, lebih besar dibanding yang ada di Kebayoran Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ada warung bebek dekat rumah yang cukup istimewa : Bebek Kremes dengan Sambel Gledek. Aku gak pernah makan di tempat, tapi beberapa kali istriku membeli untuk dimakan di rumah. Bebek gorengnya biasanya saja, tapi kremesnya banyak. Yang paling istimewa adalah sambelnya, super pedas. Pertama kali mencoba, aku langsung gak tahan. Untung saja mereka menyediakan pilihan sambel lain yang masih bisa diterima oleh lidah dan mulutku. Kalau rasa bebek gorengnya nya sendiri tergolong standard, hanya tidak keras. Tempatnya di Kemandoran, Jalan Raya Kebayoran Lama, persis samping Alfamidi. Harga per porsi 18 ribu, termasuk dapat lalapan dan dua jenis sambal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xGEa-rqxM1I/TryHSrI6LOI/AAAAAAAAGUI/DT5MJN9BDMA/s1600/20071004_84.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-xGEa-rqxM1I/TryHSrI6LOI/AAAAAAAAGUI/DT5MJN9BDMA/s200/20071004_84.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Oh ya, ada satu restoran bebek yang menurutku istimewa : Bebek Bali. Sayangnya harganya masih kurang bersahabat untukku. Dua kali aku makan di tempat ini, semuanya dibayarin hehehe ... Pertama waktu masih di Lippo Cikarang, di Restoran Bebek Bali Cikarang yang menjadi satu dengan areal Waterboom. Waktu itu ada orang Jepang berkunjung ke kantor, dan kantor mengadakan jamuan makan di sana. Kali kedua makan di restoran Bebek Bali adalah dalam acara buka bersama di salah satu customer, lokasinya di samping TVRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm.... sekali-kali pengen juga nyobain bebek peking di mall, kapan ya ada yang mbayarin :-? hehehe (mental gratisan kumat!!!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-4158378637197120045?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/4158378637197120045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=4158378637197120045&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/4158378637197120045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/4158378637197120045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2011/10/makan-bebek-dimana.html' title='Makan Bebek Dimana?'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wNd-jYGE6lM/TryFXqEoNAI/AAAAAAAAGUA/A6BlFSUJ630/s72-c/2011-10-07+12.09.55.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Java, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-7.362466865535738 110.21484375</georss:point><georss:box>-23.407402865535737 89.99999975 8.682469134464263 130.42968775</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-8564387175545397166</id><published>2011-03-04T10:46:00.002+07:00</published><updated>2011-03-04T11:11:16.518+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Transportation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'>Transit Busway Terpanjang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-K6SdZ_hL-68/TXBdf2nLEHI/AAAAAAAAFmk/Qg8e4m5Ay9w/s1600/20110130_36.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://lh3.googleusercontent.com/-K6SdZ_hL-68/TXBdf2nLEHI/AAAAAAAAFmk/Qg8e4m5Ay9w/s200/20110130_36.jpg" width="154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Salah satu manfaat menggunakan bus Transjakarta adalah kita bisa berpindah jalur tanpa harus membayar. Hanya saja ada beberapa tempat transit yang jarak tempuhnya cukup jauh, selain melelahkan juga menyita waktu. Ini yang membuat beberapa orang masih enggan untuk menggunakan Transjakarta, dan kembali memilih menggunakan kendaraan pribadi meskipun macet. Program busway-pun jadi kurang maksimal, karena menurutku, penyebab utama kemacetan di Jakarta adalah jumlah kendaraan yang sudah overdosis.&lt;br /&gt;Mulai aktifnya koridor 9 membuatku penasaran tentang transit busway yang paling panjang. Makanya aku iseng-iseng, mumpung lagi ada waktu luang, melakukan "&lt;i&gt;tour de busway&lt;/i&gt;", berkeliling Jakarta menggunakan bis Transjakarta sambil mengunjungi tempat-tempat transit yang menurutku cukup panjang. Agar aku tidak perlu bolak-balik menyeberangi jembatan transit, aku menyiasati dengan memilih rute sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Slipi Kemanggisan ke Grogol&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Grogol ke Harmoni&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Harmoni ke Palputih&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Palputih ke Senen&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Senen ke Cempaka Timur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cempaka Timur ke Pramuka BPKP&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pramuka BPKP ke Matramam&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Matraman ke Cawang BNN&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cawang BNN ke Kuningan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kuningan ke Dukuh Atas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dukuh Atas ke Semanggi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semanggi ke Slipi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Sengaja aku memilih waktu di luar jam sibuk, sehingga &amp;nbsp;penumpang bis tidak padat dan aku hampir selalu dapat tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-z6g6ZRA9X_w/TXBWJKnV3yI/AAAAAAAAFmc/zK33I_bbLfA/s1600/20110107_10.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="247" src="https://lh6.googleusercontent.com/-z6g6ZRA9X_w/TXBWJKnV3yI/AAAAAAAAFmc/zK33I_bbLfA/s400/20110107_10.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Transit Semanggi, menghubungkan koridor 1 dan koridor 9,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;adalah transit terpanjang saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Pengukuran yang kulakukan sangat sederhana, mungkin tidak terlalu akurat, hanya dengan mengandalkan langkah kaki. Soalnya kalau pakai meteran, bisa capek dan salah-salah malah dirazia satpol PP karena dianggap orang gila :). Sebisa mungkin aku mencoba stabil dalam melangkah dan berkonsentrasi penuh saat berhitung. Hasilnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Transit Semanggi (Koridor 1 dan 9), 902 langkah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Transit Cempaka Timur (Koridor 2 dan 10), 562 langkah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Transit Dukuh Atas (Koridor 1 dan 4/6), 412 langkah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Transit Grogol (Koridor 3 dan 9), 344 langkah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Transit Pramuka BPKP (Koridor 4 dan 10), 344 langkah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Transit Kuningan (Koridor 6 dan 9), 306 langkah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Transit Matraman (Koridor 4 dan 5), 230 langkah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Transit Senen (Koridor 2 dan 5), 180 langkah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Transit BNN (Koridor 7 da 9), 148 langkah&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perkiraan, mungkin satu langkahku sekitar 0.6 meter, jadi silahkan dihitung-hitung sendiri halte mana yang paling melelahkan untuk dilewati. Ada beberapa halte yang memiliki tangga berundah sehingga cukup sulit mengukur seperti halte Senen, Cawang BNN, dan Cempaka Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-dXHp_gkoIeA/TXBdRNJeiBI/AAAAAAAAFmg/v4WfMHFNA3U/s1600/20090805_09.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://lh3.googleusercontent.com/-dXHp_gkoIeA/TXBdRNJeiBI/AAAAAAAAFmg/v4WfMHFNA3U/s200/20090805_09.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Transit Dukuh Atas,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;bukan lagi transit terpanjang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Selain kesembilan tempat transit tersebut memang ada tempat transit lain, namun tidak kuperhitungkan karena masih dalam satu halte, seperti transit Central Harmoni, Cawang UKI, Pal Putih, dan sebagainya. Khusus halte Grogol, sebenarnya bisa transit ke beberapa koridor (tidak hanya antara 2 koridor), namun yang aku ukur hanya yang transitnya kurasa paling panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun melewati transit ini terasa melelahkan, apalagi transit Semanggi, kita coba berpikir positif saja. Anggap aja ini sebagai kesempatan untuk kita berolahraga dan berkeringat, apalagi bagi yang bekerja di belakang meja dan tidak terbiasa banyak bergerak. Kata orang, meskipun sebentar olahraga itu tetap perlu bagi kesehatan kita. Hitung-hitung juga penghematan daripada harus berganti jenis angkutan, meskipun tidak seberapa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-8564387175545397166?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/8564387175545397166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=8564387175545397166&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/8564387175545397166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/8564387175545397166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2011/03/transit-busway-terpanjang.html' title='Transit Busway Terpanjang'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh3.googleusercontent.com/-K6SdZ_hL-68/TXBdf2nLEHI/AAAAAAAAFmk/Qg8e4m5Ay9w/s72-c/20110130_36.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-3212457066011829493</id><published>2009-12-12T17:29:00.002+07:00</published><updated>2011-02-23T13:44:04.434+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogjakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Citiwalk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Street'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Culture'/><title type='text'>Malioboro Car Free, Mungkinkah?</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-EPnC0Mxy8Aw/TWSpv3mohaI/AAAAAAAAFj4/WsYfU4EEet0/s1600/20091212_28.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/-EPnC0Mxy8Aw/TWSpv3mohaI/AAAAAAAAFj4/WsYfU4EEet0/s400/20091212_28.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Andong, salah satu alat transportasi tradisional yang masih bertahan di Malioboro,&lt;br /&gt;di tengah hiruk pikuk kendaraan bermotor yang menyebar polusi.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Mengunjungi Jogja tidak akan lengkap kalau tidak mampir ke Malioboro, begitulah pendapat umumnya. Kepopuleran Malioboro sebagai salah satu icon kota Jogja sudah ada sejak dulu, entah sejak kapan pastinya. Letaknya di pusat kota, dekat dengan Kraton Jogja dan sangat dekat dengan Stasion Tugu, membuat posisinya sangat strategis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku masing tinggal di Jogja, sejak kecil hingga lulus SMU, aku tidak terlalu memahami daya tarik tempat itu. Apalagi aku jarang keluyuran malam, apalagi sampai jauh dari rumah.  Bagiku, Malioboro cuma identik dengan toko Ramai, apalagi sebelum ada MM. Aku kurang suka belanja atau sekedar melihat-lihat di sepanjang trotoar jalan itu. Selain isi dompet yang pas-pasan, juga harganya mahal meskipun bisa ditawar. Suasana makan lesehan di malam hari juga baru 1-2 kali kurasakan, karena harganya terlalu mahal bagi warga Jogja pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-voQBVynCaU4/TWSpuLeHu9I/AAAAAAAAFjw/uTpGgktHILc/s1600/20080913_06.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-voQBVynCaU4/TWSpuLeHu9I/AAAAAAAAFjw/uTpGgktHILc/s320/20080913_06.jpg" width="239" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bareng Andri di Malioboro&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Namun setelah aku merantau, meninggalkan Jogja untuk kuliah atau kerja, apalagi setelah biasa "&lt;i&gt;keluyuran&lt;/i&gt;", aku mulai bisa memahami daya tarik Malioboro. Setiap kali aku pulang kampung, apalagi jika mengajak teman, selalu aku sempatkan mengunjungi tempat itu. Minimal sekedar lewat untuk beli oleh-oleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya belakangan ini aku merasa ada yang kurang, malah terkesan mengganggu saat mengunjung Malioboro. Terlalu padat. Macet, apalagi saat liburan. Kepadatan kendaraan bermotor membawa polusi yang mengganggu kenyamanan. Ini Jakarta atau Jogja ya? Untung masih ada andong dan becak yang membuatku yakin kalau aku masih di Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai berkhayal, mungkinkah Malioboro ditata ulang. Malioboro sebagai salah satu icon kota Jogja, sebaiknya bisa dikemas lebih modern tapi tetap mencerminkan budaya Jogja. Malioboro tidaklah pas menjadi pusat bisnis. Malioboro lebih cocok menjadi pusat seni dan budaya. Selain itu, lalu-lintas di sana harus dibenahi. Kalau perlu jadikan Malioboro sebagai zona bebas kendaraan bermotor. Jakarta aja punya car free day, mengapa Jogja tidak? Biarkan andong, becak dan sepeda yang melintas di jalan ini, mengiringi para wisatawan. Suasana Jogja pasti akan sangat terasa istimewa. Di tahun 90an, Jogja masih dipenuhi dengan sepeda, suatu pemandangan yang menarik dan &lt;i&gt;ngangenin&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-dBIUJfNSw8k/TWSpu_B6HPI/AAAAAAAAFj0/FSI-AKppnZc/s1600/20091212_23.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-dBIUJfNSw8k/TWSpu_B6HPI/AAAAAAAAFj0/FSI-AKppnZc/s320/20091212_23.jpg" width="225" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Salah satu instalasi seni yang dipasang&lt;br /&gt;di Malioboro saat Jogja Biennale&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Aku berkhayal, tanpa kendaraan bermotor, nongkrong atau jalan-jalan di Malioboro akan lebih menyenangkan. Apalagi kalau ada sinyal &lt;i&gt;wifi &lt;/i&gt;gratisan hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, areal trotoar bisa juga dikemas untuk mendukung aktivitas seni dan budaya. Bisa dengan menyediakan areal khusus untuk pentas seni terbuka, atau sekedar memajang karya seni. Tanpa kendaraan bermotor, pawai atau festival budaya akan lebih mudah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah pemkot Jogja telah memikirkan atau merencanakan hal ini? Moga saja …&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-3212457066011829493?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/3212457066011829493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=3212457066011829493&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/3212457066011829493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/3212457066011829493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2009/12/malioboro-car-free-mungkinkah.html' title='Malioboro Car Free, Mungkinkah?'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-EPnC0Mxy8Aw/TWSpv3mohaI/AAAAAAAAFj4/WsYfU4EEet0/s72-c/20091212_28.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-115964820669853450</id><published>2006-09-01T02:38:00.001+07:00</published><updated>2011-02-22T13:27:08.012+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='City'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shopping Mall'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bandung'/><title type='text'>Bandung Lautan Mal</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kota kembang yang sudah bertaburan mal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/dscn0093.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/dscn0093.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Waktu pertama kali datang ke Bandung, sepuluh tahun yang lalu, seingatku belum banyak mal. Waktu itu aku cuma ingat BIP (Bandung Indah Plaza, yang kadang disebut Plasa Bandung Indah), Sultan Plasa (di Cihampelas). Yah, setidaknya dua tempat tersebut paling sering kukunjungi semasa tahun-tahun awal kuliah, karena cukup dekat dengan kampus. Di tempat lain mungkin juga ada, tapi aku gak terlalu kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat-tempat keramaian lain masih kurang layak disebut mal, seperti Pasar Baru dan Kebon Kelapa, meski sekarang sudah direnovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 5 tahun aku kuliah, mal-mal baru mulai bermunculan. Mulai dari BEC (yang mau menjadi pusat elektronik), IP (Istana Plasa), BSM (Bandung Super Mal, yang megah tapi sepi karena terkesan mahal), dan BTC (Bandung Trade Center, yang menawarkan barang kualitas mal harga pasar :) ). Lokasi mal-mal pun mulai terpencar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/dscn0082.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/dscn0082.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah lulus kuliah, muncul lagi Molis di daerah lingkar selatan, yang pembangunannya bermasalah karena katanya pengembangnya gak bertanggung jawab. Selanjutnya muncullah &lt;a href="http://www.cihampelaswalk.com/"&gt;Ciwalk&lt;/a&gt; di Cihampelas, yang lokasinya deket banget dengan kampus :) Kemunculan Ciwalk ini tampaknya membuat Sultan Plasa menjadi "mati". Terakhir aku lihat, plasa itu gak lagi beroperasi, entah akan dibongkar atau direnovasi. Selain itu, yang pasti jalan Cihampelas yang sempit itu jadi semakin padat dan macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/dscn0087.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/dscn0087.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Saat bulan Agustus kemarin aku ke Bandung bersama teman-teman kantor, ada satu mal yang baru selesai, Braga City Walk. Sesuai namanya, ada di jalan Braga. Aku pernah denger, kalau jalan Braga punya kenangan bersejarah bagi pariwisata kota Bandung, ibarat Malioboro di Jogja. Sayangnya waktu kami mampir ke sana, masih cukup sepi dan sedang direnovasi, jadi masih ribut dengan aktivitas proyek. Counternya juga kurang banyak. Makanya kami gak terlalu lama di sana, jadi kurang begitu mengenal isi mal baru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/dscn0092.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/dscn0092.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Kedua mal terakhir, Ciwalk dan BCW, nampaknya dikembangkan dengan konsep yang agak berbeda dengan mal-mal sebelumnya. Kata temanku yang biasa jalan-jalan keluar negeri ... hiks, hiks, jadi ngeler ... konsep Ciwalk seperti mal-mal di Singapore, dimana areal mal tidak terbatas di dalam gedung, tapi juga di luar gedung. Deretan cafe dan counter tidak terpusat dalam satu gedung, namun berdiri sendiri-sendiri dalam satu areal &lt;i&gt;pedestrial&lt;/i&gt; dan taman. Pengunjung dapat berjalan-jalan di udara terbuka, namun tetap bisa menikmati pemandangan cafe dan gerai-gerai busana. Apalagi lokasi Ciwalk berada di daerah atas, sehingga udaranya lebih sejuk, dan masih banyak pepohonan besar di sekitar daerah itu. Pokoknya beda deh :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/dscn0111.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/dscn0111.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Satu lagi yang menarik di Ciwalk, ada smoking area di foodcourt yang terletak di sisi Timur, pada bagian paling atas. Smoking area ini ternyata suatu "teras", dengan udara terbuka. Dari tempat ini kita bisa memandang daerah Taman Sari Bawah (termasuk kebon binatang), kawasan Ciumbeuleuit, dan juga jembatan Paspati yang megah (sayangnya, terakhir aku kesana sudah dibangun areal parkir bertingkat yang menutup pemandangan jembatan itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Ada satu "mal" lagi yang sempat populer di Bandung, yaitu Cimol, alias Cibadak Mal. Mal yang satu ini bukan berbentuk gedung, melainkan di sepanjang jalan Cibadak. Mal ini terkenal karena menyediakan pakaian-pakaian import yang murah. Jika pinter, kita bisa mendapat baju yang bagus dengan harga sangat murah. Sayangnya, karena sifatnya yang tidak resmi, keberadaan "mal" ini menuai protes pedagang asli setempat, terus dipindah ke lapangan Tegalega. Terakhir katanya dipindah lagi ke daerah Pasar Gedebage.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-115964820669853450?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/115964820669853450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=115964820669853450&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/115964820669853450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/115964820669853450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/09/bandung-lautan-mal.html' title='Bandung Lautan Mal'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-115661676697605640</id><published>2006-08-27T00:33:00.002+07:00</published><updated>2011-02-22T13:25:28.027+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Photography'/><title type='text'>Komposisi Favorit</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Sekedar penggemar, bukan profesional.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Aku bukanlah fotografer, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wong&lt;/span&gt; kamera aja gak punya, juga gak ada latarbelakang fotografi. Meskipun aku gemar fotografi, sebagaimana halnya dengan seni yang lainnya, aku lebih menganggap diriku sebagai dokumentator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya aku gemar mendokumentasikan sesuatu, baik lewat tulisan maupun lewat gambar (foto). Ketika aku memotret sesuatu, tujuan utamaku adalah untuk keperluan dokumentasi, untuk mengabadikan sebuah momen, tempat, wajah, atau apapun. Dengan adanya gambar yang kudapat, aku harap suatu saat aku bisa bercerita, bahwa aku pernah berada dalam situasi seperti ini, mengalami ini-itu, berada di tempat ini, melihat benda seperti itu atau sekedar pernah melihat itu :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan berarti aku mengabaikan masalah keindahan atau daya tarik dari gambar yang kuhasilkan. Ketika memungkinkan, aku selalu berharap gambar yang tercipta memiliki keindahan tersendiri,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; eye-catching&lt;/span&gt;, menarik dan enak dilihat. Namun adanya keterbatasan kamera yagn kupunya, juga keterbatasan kemampuan teknis fotografi yang kumiliki, aku lebih mengandalkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;feeling&lt;/span&gt;, dan komposisi untuk bisa mendapatkan hasil yang cukup menarik. Beberapa komposisi menjadi favoritku, karena bagiku memberi cita rasa yang unik dan cukup menarik. (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Istilah-istilah yang kugunakan bukan istilah standard fotografi, umumnya adalah istilahku sendiri, jadi maaf kalau kurang pas :) &lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komposisi ruang kosong.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/050429_0026~001.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/050429_0026%7E001.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Yang kumaksud dengan kompossi ruang kosong adalah adanya ruang kosong yang cukup luas, di luar objek utama yang menjadi fokus (&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Point_of_interest"&gt;POI = &lt;span style="font-style: italic;"&gt;point of interest&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;). Ruang kosong bisa berupa tembok, lantai, jalan, atau langit. Ruang kosong itu bisa berupa bidang satu warna (misal tembok putih atau langit biru), atau tekstur dengan pola khusus (misal ubin lantai atau lapangan parkir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20051014_32.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20051014_32.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Bagiku, adanya ruang kosong ini memberi kesan lega, tidak sumpek, sehingga objek bisa lebih menonjol. Dengan adanya ruang kosong, POI lebih terfokus dan memiliki daya tarik tersendiri, karena seolah-olah memberi kesan bahwa hanay ada benda tersebut. Komposisi semacam ini banyak aku temukan dalam wallpaper-wallpaper desktop, dan adanya ruang kosong memberi tempat untuk kita memberikan tulisan dalam foto yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komposisi siluet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Silhouette"&gt;Siluet&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20040913y.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20040913y.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;adalah tampilan suatu objek yang berisi kerangka luar objek tersebut dan isinya secara solid, tanpa detil di dalam objek tersebut. Komposisi siluet selalu menarik, karena menampilkan bentuk (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;shape&lt;/span&gt;) dari objek yang umumnya berwarna gelap dan solid, sementara latar belakang memiliki warna yang lebih terang. Rata-rata foto siluet ini bisa kita dapatkan saat memotret objek atau pemandangan di senja hari ketika matahari terbenam, atau di fajar hari sebelum matahari muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebenarnya, untuk menghasilkan foto siluet, tidak perlu menunggu matahari terbit atau tenggelam. Pertama kali aku menghasilkan foto siluet justru secara tidak sengaja. Waktu itu aku minum kopi di samping dapur, yang ruangannya cukup terbuka. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/dscn0046.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/dscn0046.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Terus aku bikin potret diri dengan memanfaatkan fitur timer, dan menghasilkan gambar siluet yang cukup menarik. Setelah diulang-ulang, akhirnya aku berkesimpulan, bahwa foto siluet bisa kita hasilkan ketika kita berada di ruangan yang minim cahaya, sementara latar belakang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;background&lt;/span&gt;) memiliki cahaya yang cukup terang. Contohnya, kita berada di kamar yang agak gelap dengan jendela yang menyediakan cahaya cukup. Ketika kita mengambil foto sebuah objek, mengarah ke sumber cahaya (jendela), biasanya akan menghasilkan foto siluet. Kualitas siluet yang dihasilkan tergantung pada perbedaan cahaya di depan dan belakang objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat contoh foto-foto siluet yang dahsyat, bisa dilihat di sini http://silhouettes.sytes.org/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komposisi frame&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20060613_38.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20060613_38.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Komposisi ini terbentuk ketika objek ada dalam jarak yang cukup jauh, sementara di latar depan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;background&lt;/span&gt;) ada yang bentuknya mengurung objek utama, sehingga seperti membentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;frame&lt;/span&gt;. Biasanya objek yang menjadi frame/latar depan tidak terlalu jelas (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;blur&lt;/span&gt;), atau malah warnanya solid, sehingga nuansa frame cukup menonjol. Sementara objeknya (POI-nya) sendiri haruslah cukup tajam dan terfokus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya ruang kosong, adanya frame juga membuat objek jadi lebih terfokus. Objek yang ada dalam frame, yang biasanya lebih tajam, mendapat porsi perhatian yang lebih banyak. Foto yang dihasilkan akan seperti foto hasil pengintaian, karena memanfaatkan celah yang terbentuk dari objek yang menjadi latar depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20050306y.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20050306y.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Frame sendiri bisa terbentuk dari bermacam-macam. Selama ini yang sering kutemui adalah pepohonan, termasuk bunga, dua benda yang bersebelahan, celah pintu/jendela, kerumunan orang, ranting pohon, tumpukan barang dan sebagainya. Pengaturan DOF (&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Depth_of_field"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;depth of field&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;) yang tepat akan semakin memperindah hasil, dimana POI cukup tajam sementara latar depannya kabur (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;blur&lt;/span&gt;). Sayangnya, kemampuan kamera yang selama ini kupakai kurang bisa menghasilkan DOF yang ekstrem, karena tidak ada pengaturan manual, lagipula aku masih sangat amatir dalam teknik pengoperasiannya. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komposisi &lt;/span&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Macro_photography" style="font-weight: bold;"&gt;Makro&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20050805_01.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20050805_01.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Wuih, kalau ini benar-benar yang nomor satu, paling favorit, dan paling susah :(, dan sangat tergantung pada kemampuan zoom + DOF dari kamera yang kita punya. Sayangnya, sampai saat ini kamera (pinjaman) yang kupakai kemampuannya pas-pasan, sehingga foto makro yang bisa dihasilkan juga terbatas. Apalagi pengaturan fokus manual yang butuh konsentrasi dan kejelian, agar objek yang kita inginkan benar-benar mendapat fokus terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto makro adalah foto yang objeknya adalah benda-benda kecil, atau sangat kecil, misalnya serangga, bunga atau benda-benda kecil lainnya. Foto makro tidak hanya memperbesar gambar (zoom), tapi juga melibatkan pengaturan fokus pada gambar tersebut. Jadi kualitas foto makro juga tidak terlepas dari pengaturan DOF ketika memotret. Sekali lagi, kualitas kamera jelas memiliki peran besar. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/dscn0076.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/dscn0076.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Hampir setiap kamera menyediakan fitur pemotretan makro, entah teknisnya seperti apa yang membuat dia beda dengan foto otomatis biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto makro yang bagus bisa memfokuskan pada satu objek saja, atau satu bagian dari objek, sementara objek di sekelilingnya menjadi pudar/kabur (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;blur&lt;/span&gt;). Hal ini tentu saja membuat objek yang diinginkan semakin mendapatkan fokus atau pusat perhatian, karena pada umumnya lebih tajam dibanding sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komposisi Perspektif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/dscn0062.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/dscn0062.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Komposisi perspektif yang kumaksud adalah komposisi yang melibatkan benda-benda dengan garis-garis perspektif yang cukup menonjol. Hal ini biasa aku temukan waktu aku motret bangunan yang memanjang (misalnya ruko), jalan raya yang lurus, stasion kereta api, bangunan dengan lorong panjang atau jembatan penyeberangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik dari komposisi ini adalah perspektifnya, itu aja. Dengan sudut tertentu, kita akan seperti mendapatkan garis-garis yang mengarah pada satu titik tertentu. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20060319_106.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20060319_106.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Kadang, saat memotret jalan atau trotoar yang lurus cukup panjang, jalan tersebut akan mengarah pada satu titik, dan memberi kesan jalan tersebut tidak ada ujungnya :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komposisi Bukaan Lama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/dscn0246.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/dscn0246.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Istilah bukaan lama ini mungkin agak membingungkan. Aku ambil istilah ini, karena pada saat pengambilan foto dilakukan, diafragma terbuka dengan cukup lama, sampai ditemukan cahaya yang cukup untuk mendapatkan gambar yang bagus. Karena selama ini kamera yang kupakai adalah kamera digital dengan kemampuan terbatas, foto yang kuhasilkan dari bukaan lama ini terjadi secara tidak sengaja, karena aku memanfaatkan fitur otomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto ini biasanya aku dapat waktu aku motret di ruangan yang cahayanya minim, misal di dalam ruangan tertutup atau ruangan dengan cahaya yang biasa atau kurang tajam. Dalam kondisi seperti ini, biasanya foto yang kuhasilkan selalu kurang tajam. Mungkin karena objeknya bergerak, atau tanganku yang memang goyang. Hal ini terjadi karena, kata Yohan, dalam pencahayaan yang minim kamera mencoba mengumpulkan cahaya yang pas sebelum menghasilkan gambar yang dinilai layak. Untuk itulah, diafragmanya terbuka cukup lebar, dan lensa kamera terbuka cukup lama. Karena waktu yang lama ini, saat terjadi gerakan dalam objek, gerakan itu akan terekam, menghasilkan gambar yang kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika saat pengambilan dilakukan, ada objek yang posisinya tetap, maka objek itu akan cenderung mendapatkan fokus yang cukup jelas dan hasilnya cukup tajam, berbeda dengan objek lain yang bergerak, sehingga membentuk garis gerak (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;motion&lt;/span&gt;). Nah, justru ini menghasilkan gambar yang bagus. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/dscn0028.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/dscn0028.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Objek yang diam, yang seringkali merupakan POI dari foto tersebut, akan terekam cukup tajam, sementara objek di sekitarnya menjadi kabur, bahkan seringkali memberi kesan dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi ini sebenarnya sama halnya dengan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Panning_%28camera%29"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;panning.&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;Bedanya, kalau panning lebih ke arah objek yang bergerak seperti mobil atau motor. Aku belum pernah berhasil bikin foto &lt;span style="font-style: italic;"&gt;panning&lt;/span&gt; ini, memang bikin pening dan pusing, susahnya minta ampun, apalagi kalau kamera gak mendukung. :(&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-115661676697605640?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/115661676697605640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=115661676697605640&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/115661676697605640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/115661676697605640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/08/komposisi-favorit.html' title='Komposisi Favorit'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-115787225720388550</id><published>2006-08-10T14:00:00.000+07:00</published><updated>2006-09-10T14:10:57.216+07:00</updated><title type='text'>Ciumbeuleuit ... panorama</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Panorama ciumbeuleuit dilihat dari atas Ciwalk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/ciumbeuluit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/400/ciumbeuluit.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Waktu terakhir ke Bandung, tanggal 5-Aug-2006 kemarin, mampir ke Ciwalk. Seperti biasa, setiap ke Ciwalk aku selalu mampir ke foodcourt yang ada dekat bioskop, bukan untuk makan, tapi karena ada areal no-smokin yang merupakan ruangan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari area tersebut, bisa terlihat daerah Ciumbeuleuit, kebon binatang (yang menutupi ITB, dan sekalipun aku belum pernah kesana), juga daerah Tamansari bawah (tempat kos-kosan mahasiswa yang tergolong murah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng aja, aku motret daerah Ciumbeuleuit, dan bergeser ke arah Siliwangi serta kebon binatang, dengan tetap mempertahankan titik horisontal. Tujuanku adalah agar aku bisa nggabungin foto-foto itu jadi foto panoramic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku coba gabungkan foto-foto itu, secara komposisi bisa pas, ada 3 foto yang bisa digabungkan. Sayang sekali, pencahayaan yang kudapat gak bisa serupa, jadi kelihatan jelek. Makanya aku buat fotonya jadi hitam putih, sehingga ketiga foto itu bisa menyatu.  :-? Jadi penasaran pengen buat foto panoramic (manual) lagi :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-115787225720388550?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/115787225720388550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=115787225720388550&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/115787225720388550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/115787225720388550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/08/ciumbeuleuit-panorama.html' title='Ciumbeuleuit ... panorama'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-115356021220200884</id><published>2006-07-03T15:53:00.001+07:00</published><updated>2011-02-22T13:24:31.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Train Station'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Statue'/><title type='text'>Di Pasar Senen...</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mBuang waktu, mondar-mandir antar Stasion dan Atrium Senen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20060630_44.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/400/20060630_44.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, bisa juga aku ke Semarang, setelah dua bulan lebih "absen". Belakangan, aku lebih memilih naik kereta ekonomi, dari St. Pasar Senen ke St. Poncol. Selain murah-meriah (50% harga bis AC atau kereta bisnis), lebih santai (tidak buru-buru karena kereta berangkat jam 21:20, dan selalu telat) sampai di tujuan sudah cukup siang (jadi gak perlu bengong di stasion). Lagipula, untuk jalur utara, rata-rata pedagang asongan tidak terlalu banyak, pengamen juga jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20060630_35.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20060630_35.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Kebetulan hari Jumat itu aku ada meeting di daerah Jakarta, customer baru, dan sebelum makan siang sudah selesai. Daripada bolak-balik ke Cikarang lagi, capek dan buang waktu+ongkos, mending aku bolos aja habis meeting. Tujuan sebenarnya biar bisa beli tiket duluan, daripada kehabisan tempat duduk. Maklumlah, hari biasapun kereta ekonomi ini laris manis, apalagi akhir pekan, meski belum musim liburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpanas-panas nunggu busway di Pecenongan (heran, lama amat busway-nya, apalagi calon penumpang banyak, jadi mandi sauna di halte) lagi-lagi harus kecewa waktu tiba di stasion Pasar Senen. Ternyata loket untuk kereta ekonomi itu (KA Tawang Jaya), baru buka jam 6 sore. Waduh ... ngapain 4 jam nih :((, ditambah lagi kereta baru berangkat jam 10-an (karena telat), ... tambah bengong lagi donk :( Semula rencanaku, kalau bisa dapat tiket duluan, minimal aku bisa menjelajah Jakarta, tapi dengan waktu yang serba nanggung itu, pusing juga. Apalagi kemacetan di Jakarta membuat kita susah memprediksi waktu. Ya udah, jadinya aku bengong aja, mondar-mandir di sekitar St. Pasar Senen, jalan-jalan di Atrium Senen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20060630_37.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20060630_37.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Seingatku, dalam pelajaran sejarah, aku belum pernah mendengar tentang adanya pertempuran yang cukup terkenal terjadi di kawasan Pasar Senen ini. Tapi ternyata setidaknya ada 2 tugu/monumen perjuangan di kawasan ini (setidaknya yang dekat dengan stasion). Pertama di dekat pintu masuk sebelah Timur (dengan halaman yang cukup luas), dan satu lagi persis di depan pintu masuk utama (selatan) stasion. Kedua tugu itu berisi patung yang menggambarkan semangat perjuangan, kemanunggalan tentara dan rakyat dan berjuang melawan penjajah. Setidaknya ada patung tentara, rakyat biasa (petani), bahkan anak-anak. Sayang, aku tidak sempat membaca keterangan yang ada di patung tersebut (entah ada atau nggak :-?). Mungkin dulunya stasion ini sering dipakai untuk transportasi para pejuang :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu jalan-jalan ke Atrium Senen, tanpa sengaja aku melihat wajah seseorang yang rasanya aku kenal (meski setengah nggak percaya), orang Papua dengan badan tinggi besar. Ternyata benar ... Bang Edu (Eduard Yumame), dulu teman gereja waktu di Jogja-Bandung, namun sekarang sudah menjadi aktivis buruh di Papua. Dia juga terkejut melihatku. Rupanya dia sedang mengikut kongres partai buruh di Jakarta, bersama istri dan teman-temannya. Kami sempat jalan-jalan sebentar, ngobrol tentang banyak hal sebelum akhirnya berpisah. Lumayan lah, setidaknya ada teman untuk "membuang waktu" :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20060630_39.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20060630_39.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Bosen di Atrium Senen (baru sadar, meski cukup besar, tapi mal ini cukup membosankan juga, apalagi memang gak ada niat belanja), aku balik lagi ke stasion. Aku nongkrong di depan stasion, jepret kanan-kiri, terus pindah ke sebelah timur (dekat monumen). Di sini cukup banyak orang main bola, ada juga yang sekedar nongkrong-nongkrong menikmati suasana senja (termasuk preman yang sempat minta duit 1000 buat makan). Kasihan juga anak-anak di Jakarta ini, gak ada lahan kosong, terpaksa main sepakbola di atas ubin, sempit lagi. Seingatku, waktu itu ada 3 pertandingan berlangsung di daerah monumen itu :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku sukses beli tiket, setelah nongkron di depan loket selama hampir setengah jam. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20060630_43.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20060630_43.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Ternyata banyak juga yang udah nunggu sejak lama. Selesai beli tiket .. bingung lagi, ngapain 3 jam lebih :(&lt;br /&gt;Kuputuskan balik lagi ke Atrium Senen. Tiduran sebentar di ruang tunggu bioskop, sebelum akhirnya makan malam di Solaria sambil baca buku ampe hampir jam 9. Fuiihhh .... capek juga hari itu :(&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-115356021220200884?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/115356021220200884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=115356021220200884&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/115356021220200884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/115356021220200884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/07/di-pasar-senen.html' title='Di Pasar Senen...'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-114576755287970549</id><published>2006-04-12T11:44:00.001+07:00</published><updated>2011-02-22T13:21:52.892+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jogjakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Farming Land'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='River'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mountain'/><title type='text'>Kampung halaman</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pedesaan di lereng Merapi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sepia20060409_42.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sepia20060409_42.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Setiap kali ada temanku mau ke Jogja dan minta aku nemenin dia jalan-jalan, aku selalu bingung, harus ngajak kemana. Apalagi kalau orang itu udah pernah ke Jogja. Mau ngajak ke Malioboro, bosen juga, apalagi biasanya tiap orang yang pernah ke Jogja, pasti udah pernah ke sana. Mau ngajak ke Prambanan atau Borobudur, jauh. Ke Parangtritis atau Kaliuran juga cukup jauh, apalagi aku gak ada kendaraan pribadi. Kalau naik angkutan umum, aku gak cukup pengalaman, dan gak yakin mau ke arah mana  (hehehehe. ... makluk, dari dulu aku paling jarang jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di sekitar Jogja, kecuali aja yang ngajak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, beberapa kali kejadian, kalau ada teman yang pengen ikut aku ke Jogja terus ngajak jalan-jalan, biasanya aku bawa dulu dia mengunjungi "taman bermain"ku, tempat aku habiskan masa kecilku, dari SD sampai SMU (Soalnya sebelum SD aku tinggal sama saudara di kota, sementara selepas SMU aku merantau ke Bandung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sepia20060409_40.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sepia20060409_40.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Tempat bermainku gak jauh dari rumah. Sejak kecil memang aku jarang bermain jauh-jauh, lebih suka menghabiskan waktu di rumah, mengerjakan hobiku sendirian, sambil jalan-jalan sendirian di sekitar rumah. Taman bermainku adalah sawah dan sungai, dengan segala isinya. Semuanya bisa dipakai untuk bermain, baik waktu sendirian ataupun waktu bersama teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa bulan gak mampir, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;long weekend&lt;/span&gt; kemarin aku sempatkan untuk mampir ke rumah di Sleman. Selain ngunjungin orangtua, sekaligus ngurus perpanjangan KTP yang sudah habis tepat pada bulan ini juga. Meskipun agak berat juga ninggalin kerjaan yang bejibun, tapi aku usahakan buat menikmati liburan ini semaksimal mungkin, sapa tahu bisa jadi penyegaran dan nambah semangat buat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sepia20060409_59.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sepia20060409_59.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Meski cuma sebentar, tak lupa aku "menjenguk" taman bermainku, areal persawahan dan sungai di kaki gunung merapi. Meski masih berada dalam jarak aman dari ancaman meletusnya gunung ini, namun dari tempatku gunung Merapi sudah bisa terlihat jelas, termasuk lahar kemerahan yang sering mengalir, akan nampak jelas pada waktu malam cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak terlalu mencolok, sudah banyak yang berubah dari taman bermainku. Areal persawahan sudah makin menyempit, karena beberapa tempat dialihfungsikan menjadi hunian tempat tinggal, atau tempat usaha. (Malah ada yang bikin kandang ayam di tengah sawah).  Tapi gubuk-gubuk masih tetap ada, jadi aku bisa nongkrong, menikmati hamparan padi menguning, sambil merasakan sejuknya angin pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sepia20060409_46.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sepia20060409_46.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Waktu jalan-jalan di sawah, aku disambut oleh salah satu kawan lama (hehehehe ... ). Ada belalang tiba-tiba nemplok di lengan kiriku, mungkin kangen dia, atau jangan-jangan dia penghuni baru yang ingin berkenalan denganku. Dengan sedikit susah payah, pakai satu tangan aku coba motret kawan ini. Dapat juga, meski fokusnya agak meleset ke arah baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tempat yang gak pernah kulewatkan ketika aku mampir pulang adalah sungai dan bendungan. Di sungai itulah dulu aku selalu mandi, pagi-sore. Waktu itu belum banyak penduduk yang punya kamar mandi, jadi segala aktifitas MCK dilakukan di sungai. Air sungai masih cukup jernih, apalagi alirannya gak deras, sungainya pun gak seberapa, jadi gak terlalu kuatir adanya banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sepia20060409_51.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sepia20060409_51.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Sebagai tempat bermain, sungai benar-benar menyenangkan di masa kanak-kanakku dulu. Di sinilah aku belajar berenang, menyelam, salto dan mencari ikan (meski gak suka mancing). Kadang-kadang bisa lebih dari 3 kali aku mandi, meski sebenarnya cuma main-main aja. Air sungainya juga masih cukup alami, belum banyak kena limbah industri. Paling parah hanyalah limbah sawah dan rumah tangga. Bendungan menjadi salah tempat favorit karena genangan airnya cukup dalam untuk berenang, dan dari atas beton bendungan aku bisa mempraktekkan kemampuan lompat indahku (aku ingat suatu saat pernah nyoba salto, dengan timing yang buruk akhirnya punggungku yang jatuh duluan .... panasnya minta ampun )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sungai sudah cukup banyak berubah. Sudah jarang yang mandi di sini, airnya juga&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sepia20060409_49.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sepia20060409_49.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt; sudah lebih keruh, endapan lumpur juga makin banyak, membuat gak nyaman lagi untuk dipakai berenang, karena kedalaman yang berkurang dan terkesan kotor. Di sepanjang sungai sekarang udah banyak kolam-kolam ikan, yang sering dipakai sebagai kolam pemancingan. Hampir setiap sabtu-minggu selalu ramai orang mancing di situ (dalam hati aku mikir, apa sih asyiknya mancing ikan :-? ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ingat dulu waktu kecil, saat bermain di sungai, teduh dan tenang di bawah rimbunnya pepohonan, dengan merdunya gemericik air serta kicauan burung-burung, aku pernah berpikir, mungkinkah sungai ini bisa dijadikan objek wisata. Mungkinkah taman bermainku ini tetap asri, bisa menjadi tempat peristirahatan yang nyaman. Yah, mimpi kanak-kanak memang kadang aneh, dan naif :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-114576755287970549?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/114576755287970549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=114576755287970549&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114576755287970549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114576755287970549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/04/kampung-halaman.html' title='Kampung halaman'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-114434286028349651</id><published>2006-04-02T23:58:00.001+07:00</published><updated>2011-02-22T13:19:49.278+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Java'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beach'/><title type='text'>Pantura ...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;... di mana pantainya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20050422_19.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/400/20050422_19.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, setiap kali mendengar istilah jalur Pantura (Pantai Utara Jawa), dalam benakku selalu terbayang adanya jalan yang berada di pinggir pantai. Soalnya, kalau ngapain pakai sebutan pantai segala. Kalau sekedar mau nyebut jalur di bagian utara Pulau Jawa, kenapa gak cukup dibilang jalur utara jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali aku melewati jalur Pantura, -- baik waktu SMA maupun saat kuliah --, dalam perjalanan Jakarta-Jogja atau Jogja-Bandung, aku hampir gak pernah melihat pantai di sepanjang jalan yang kulalui. Makanya aku selalu penasaran, sebenarnya pantainya ada dimana :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada dua alasan utama kenapa aku gak melihat pantai di sepanjang jalur Pantura.&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20050422_17.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20050422_17.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt; Pertama, karena aku biasa melintasi jalur itu pada malam hari. Kedua, mungkin karena aku hanya melewati jalur Pantura dari Jakarta-Semarang padahal jalur Pantura sendiri terbentang sampai Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, baru setelah kerja, aku punya pengalaman bepergian sampai ke Surabaya melalui jalur Pantura, dan kadang-kadang aku bepergian di siang hari, baik dengan kendaraan pribadi, bus maupun kereta api. Di situlah baru aku menemukan pantai di sepanjang jalur Pantura. Ada yang cukup jauh, api ada yang cukup dekat, sampai sepertinya jalan menyatu dengan pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalur darat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20050505_25.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20050505_25.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika kita menggunakan kendaraan pribadi atau bus melintasi jalur Pantura, kita akan menemukan beberapa titik yang sangat dekat dengan pantai. Namun memang titik-titik tersebut lebih banyak ditemukan di jalur Semarang-Surabaya, dibandingkan Jakarta-Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk jalur Jakarta-Semarang,  yang pernah kulihat, kita bisa melihat pantai di daerah Cirebon/Brebes, dan Tegal. Khususnya di Tegal, pantai dengan deretan pohon kelapa bisa kita saksikan dengan cukup jelas, meskipun jaraknya masih lumayan, sekitara 100-200m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20050507_07.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20050507_07.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Namun untuk jalur Semarang-Surabaya, aku bisa langsung merasakan hembusan angin pantai ketika melintasi daerah Rembang dan Tuban. Di Rembang, ketika memasukin pantai Sluke, jalan benar-benar menyatu dengan pantai, benar-benar pemandangan yang indah. Bentuk jalan yang berkelok-kelok mengikuti bentuk pantai, sementara di sisi lainnya adalah perbukitan dengan hamparan sawah yang hijau, sungguh perpaduan antara alam pantai dan bukit yang cukup indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20050102g.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20050102g.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Sementara di Tuban, hampir sepanjang waktu kita akan "bersentuhan" dengan pantai. Jarak antara jalan dengan pantai mungkin cuma sekitara 5-50 meter. Dulu, terminal Tuban benar-benar berada di tepi pantai. Dari arah Semarang, saat memasuki kota Tuban, kita akan segera disambut dengan deburan ombak dan warung-warung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;seafood &lt;/span&gt;yang berjejer di tepi jalan.&lt;br /&gt;Dan sekarang, Tuban membangun terminal baru yang cukup besar, dengan melakukan reklamasi pantai. Jadi saat memasuki terminal itu, rasanya seperti berada di tengah pantai :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jalur Tuban-Surabaya tidak lagi berdekatan dengan pantai. Meski aku sendiri belum terlalu yakin, soalnya baru sekali melewati jalur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalur Kereta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta api masih menjadi jalur favoritku. Makanya beberapa kali aku memilih naik kereta api kalau pulang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20050505_21.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20050505_21.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Di jalur Pantura, kayaknya jalur kereta api cuma sampai Semarang. Dari Semarang ke arah timur, jalurnya belok ke arah Purwodadi, Bojonegoro dan Surabaya, yang sepertinya agak ke tengah di bandingkan utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah mengalami naik kereta di siang hari, baru terlihat adanya pantai. Di daerah Kendal kalau gak salah, lintasan kereta bener-bener berada di pinggir pantai, jadi pantainya bisa terlihat jelas, paling-paling cuma jaran10-50 meter. Udah gitu lintasan di pinggir pantai ini cukup panjang juga, bisa 1 km lebih. Puas deh ngeliatin pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/20050422_22.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/20050422_22.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Berbeda dengan daerah Sluke, dimana sisi lain dari jalan adalah bukit+sawah, di sini sebelah selatan dari lintasan kereta api adalah hutan ... bener-bener hutan, cukup lebat juga.Mungkin alas roban, tapi aku gak berani memastikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-114434286028349651?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/114434286028349651/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=114434286028349651&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114434286028349651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114434286028349651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/04/pantura.html' title='Pantura ...'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-114335919180645924</id><published>2006-03-26T13:02:00.001+07:00</published><updated>2011-02-22T13:18:19.763+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='City'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Street'/><title type='text'>Jakarta, di suatu sore</title><content type='html'>Hampir setiap Kamis aku harus "berkunjung" ke salah satu customer, untuk presentasi dan melaporkan perkembangan proyek yang sedang kukerjakan. Biasanya aku datang agak pagi, sekitar jam 10, pulangnya jam 3-4. Kebetulan hari ini mereka minta aku datang siang hari aja, mungkin karena mereka sibuk. Nah, efek sampingnya, aku baru pulang sore, udah hampir gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;05:53:34 PM - Jam di perempatan BI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sp_20060323_20.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sp_20060323_20.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Berkali-kali ngelewatin tempat ini, gak pernah perhatikan kalau di tengah perempatan ada jam. Jam-nya terkesan dah kuno, model klasik dan polos. Jadi teringat akan banyaknya jam yang terpasang di ruang publik di kota-kota besar, tapi sebagian besar gak berfungsi dengan baik. Ada yang gak berfungsi, ada yang berfungsi tapi gak tepat waktu yang ditunjukin. Kadang-kadang ada 4 jam pada lokasi yang sama, tapi setiap jam menunjukkan waktu yang beda ... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lah opo tumon&lt;/span&gt;!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, kalau disambung-sambungin, ketidaktepatan waktu yang ditampilkan pada jam-jam yang terpasang di ruang publik itu, menunjukkan bahwa waktu memang belum terlalu dihargai di tempat ini. Jadi jam di tempat publik tidaklah dianggap sebagai sesuatu yang vital. Padahal, seharusnya kan jam di tempat publik seharusnya bisa menjadi patokan atau standard. Kalau gak ada standard, ya, telat pun gak bisa disalahin ... tinggal muter jam tangan sendiri, dan bilang "Jam saya belum telat kok" :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;05:54:00 PM - Polisi dan kendaraannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sp_20060323_21.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sp_20060323_21.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Jam-jam seperti ini, polisi dikerahkan di jalur-jalur padat. Yah, meski belum tentu bisa memperlancar arus lalu-lintas yang sangat padat, tapi setidaknya adanya petugas bisa menghalangi pengguna jalan yang tidak bertanggung jawab, yang sering serobot sana serobot sini, yang pada akhirnya justru bikin kemacetan makin parah. Khusus untuk lintasan ini, polisi juga bisa punya kerjaan sambilan -- ngawasi orang-orang nekat atau orang-orang bodoh yang masuk jalur 3in1 meski cuma sendiri atau duaan :D , dendanya lumayan juga tuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;05:56:48 PM - Sudut BI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sp_20060323_27.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sp_20060323_27.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Wah, gak nyangka ada tempat seperti ini. Bagus juga buat nongkron di sore hari, tapi jangan nongkrong di siang bolong .... bisa gosong terbakar panasnya jakarta :))&lt;br /&gt;Sayangnya lagi, tanaman yang ada di sekitar ini cenderung hampir mati, entah karena baru, atau karena gak diurus. Dengan adanya bambu penyangga tanaman, agak merusak keindahan eksterior tempat ini.&lt;br /&gt;Kalau para tukang ojek yang nongkrong di sebelahnya .... hmmmm ... bikin rame lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;06:01:28 PM - Rutinitas Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sp_20060323_32.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sp_20060323_32.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Yah, seperti inilah Jakarta di sore hari, macet dah jadi rutinitas. Menurut mas Prie GS, ada 3 jenis penyebab kemacetan. Karena jumlah kendaraan yang meningkat, karena kurangnya kesadaran pengguna jalan, dan karena ada pejabat lewat :))  Apa yang terjadi sore itu, jelas karena alasan pertama, soalnya semua berjalan teratur, dan gak terdengar bunyi sirene tanda adanya penjahat .. eh ... pejabat yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, waktu masih tinggal di Jogja nan nyaman, kemacetan hanya terjadi karena alasan kedua, makanya tiap kali ada macet ... wuiiihhh, klakson dan umpatan akan segera bergema. Makanya waktu pertama merantau di rimba Jakarta ini agak heran, kena macet kok adem-ayem aja. Ternyata macet di sini dah jadi konsekuensi, makanan sehari-hari, jadi ngomel-ngomel gak ada gunanya, bikin tambah laper aja :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalur busway, terlihat sangat kontras karena begitu lenggang. Apa busway terkena macet juga? Mungkin. Soalnya jalur busway di daerah Gajahmada juga gak terlalu lancar ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;06:02:10 PM - Berbagi Suami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/sp_20060323_34.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/sp_20060323_34.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang ibu terlihat duduk tenang, sendirian di sebuah halte. Entah nunggu seseorang, atau sekedar nunggu angkutan buat pulang. Di atasnya, terpampang poster film yang baru mau beredar, dengan judul yang cukup unik "Berbagi Suami". Beberapa hari sebelumnya aku sempat membaca sekilas buku yang mengulas film tersebut, dan dari buku itu aku sedikit tahu kalau film ini berkisah tentang 3 wanita yang secara kebetulan mempunyai kesamaan .. "mereka harus berbagi suaminya dengan wanita lain". Yang cukup menarik adalah ketiga wanita itu memiliki latar belakang yang beda. Kayaknya film ini cukup menari juga.&lt;br /&gt;Mungkinkah ibu yang duduk di halte itu juga sedang "berbagi suami"?? Moga aja gak, lah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau aku perhatikan, film-film nasional sekarang sudah berani mengambil tema yang "kurang populer". Dari yang aku amati, ada cerita tentang pergumulan seorang gay (Arisan), lesbian (Detik Terakhir), kisah pengantar film (Janji Joni), kepribadian ganda (Soulmate) dan kisah-kisah horor yang cukup variatif. Salut deh, meski masih males nonton film-film indo di bioskop :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: barusan baca blognya &lt;a href="http://ranids.blogspot.com/2006/03/berbagi-suami.html"&gt;rani&lt;/a&gt;, eh ada cerita tentang film ini. :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-114335919180645924?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/114335919180645924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=114335919180645924&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114335919180645924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114335919180645924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/03/jakarta-di-suatu-sore.html' title='Jakarta, di suatu sore'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-114087903289816384</id><published>2006-02-10T21:08:00.001+07:00</published><updated>2011-02-22T13:16:03.597+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Transportation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Train'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Singapore'/><title type='text'>SMRT</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/DSCN0062.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/320/DSCN0062.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semula kupikir SMRT itu Singapore Mono Rail Transport ... heheheheh ... ternyata salah besar. SMRT adalah &lt;a href="http://www.smrt.com.sg/aboutsmrt_main.htm"&gt;Singapore Mass Rapid Transit.&lt;/a&gt; Soalnya waktu singgah di sana, transportasi yang kugunakan cuma kereta api. Ternyata SMRT gak cuma ngurusin kereta, tapi juga bus, taksi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sebagian besar waktuku jalan-jalan kuhabiskan di kereta api. Aku puas-puasin menikmati kereta api ini, sebagai salah satu alat transportasi yang selama ini kudambakan. Transportasi yang rapi, bersih, aman, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;predictable&lt;/span&gt;, mudah digunakan. Petunjuk yang jelas serta petugas yang ramah benar-benar membantu orang asing sepertiku untuk dengan mudah berkelana sendirian di belantara kota Singapore, tanpa takut bakal nyasar. Meski baru pertama kali, aku dah cukup bisa menentukan sendiri tujuanku, serta memperkirakan waktu perjalanan yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket kereta bisa dibeli di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ticketing machine&lt;/span&gt;, yang cukup mudah digunakan, &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/DSCN0026.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/DSCN0026.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;asal ngerti dikit bahasa Inggris :). Tiap tujuan memiliki tarif berbeda, dan dari tarif yang ada itu, kita harus lebih dulu ngasih deposit sebesar 1 dolar singapore. Nanti di stasion tujuan kita bisa ngambil lagi uang deposit kita itu. Mungkin deposit ini diperlukan seandainya kita salah milih tujuan. Tapi ada juga semacam kartu prabayar buat ganti tiket ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 5 pagi kereta ini dah beroperasi. Dah ada anak-anak sekolah yang berangkat ke sekolah pakai kereta. Jam 5 pagi ... bener-bener deh, masih gelap gulita. Kan waktu di Singapura lebih awal 1 jam dibanding Jakarta, bisa dibayangkan deh. Aku bela-belain bangun jam segitu biar lebih banyak waktu buat jalan-jalan, meskipun masih gelap. Tapi jam-jam segitu sih kereta masih cukup sepi, beda dengan jam-jam 7-8, dah padat.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/DSCN0028.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/DSCN0028.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Hanya saja di sini, meskipun baru pertama kali, aku gak terlalu kuatir dengan adanya copet dan konco-konconya, seperti yang populer ada di KRL Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/DSCN0065.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/DSCN0065.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Kapan ya di Indonesia bisa ada transportasi seperti itu .. gak usah terlalu mewah lah, yang penting &lt;span style="font-style: italic;"&gt;predictable&lt;/span&gt;, teratur, nyaman, aman dan informatif. Itulah sebabnya di Jakarta aku paling senang naik Busway, meski banyak orang yang ngritik pas awal pembangunannya. Malah bentar lagi (ya gak terlalu bentar lah ) ada desas-desus bakal ada monorail di Jakarta ... .hemmm bagus gak ya? Yang jelas aku gak sabar nunggu dibukanya busway koridor 4,5,6, 7 ... dst :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, minimal aku harap perusahaan transportasi umum yang dikelola negara bisa meningkatkan layanan publik tersebut. Paling sederhana dari masalah waktu lah. Mungkin budaya "jam ngaret" sudah terlalu mendarah daging, jadi rasanya penyelenggara jasa itu gak terlalu bermasalah dengan kacaunya jadwal keberangkatan. Tapi meski masih sering telat, kereta api di negara ini masih jadi pilihan favoritku :D&lt;br /&gt;Ayo, majulah transportasi Indonesia !!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-114087903289816384?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/114087903289816384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=114087903289816384&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114087903289816384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114087903289816384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/02/smrt.html' title='SMRT'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-114081734920329567</id><published>2006-02-10T16:13:00.001+07:00</published><updated>2011-02-22T13:14:50.761+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Singapore'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Airport'/><title type='text'>Lost in Changi</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/changi5.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/400/changi5.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;Bener-bener pengalaman unik yang nggak bakal terlupakan. Untuk pertama kali menginjakkan kaki di Singapore, gak ada kenalan, dan duit terbatas. Meski aku ke sana untuk ketemu dengan seseorang, -- untuk mengantar barang ke orang itu--, tapi sungkan juga kalau harus merepotkan orang yang gak kukenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian berawal dari sebuah telepon ... yup sebuah telepon dari Mr. Cham. Dia minta tolong bosku untuk mengantarkan barang ke Singapore. Karena barangnya dalam jumlah kecil dan perlu segera dikirim, dirasa kurang efisien kalau harus pakai jasa pengiriman resmi. Bosku setuju dan langsung menawarkan kepadaku untuk pergi. Karena waktu itu gak ada orang lain yang punya passport, dengan berat hati (hehehe ... padahal seneng) aku terima tugas itu. Tanpa persiapan apa-apa, dan buru-buru, aku segera berangkat ke Bandara, naik taksi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang dasarnya aku selalu sial kalau keadaan lagi buru-buru. Yah, seperti saat itu, aku harus kehilangan duit dalam jumlah besar :(. Itu terjadi gara-gara terburu-buru, jadi aku kurang teliti bawa duitnya, ditambah lagi dengan "kepanikan" Mr. Cham, yang hampir tiap 10 menit nelpon, memastikan apa aku jadi berangkat atau gak. Udah gitu, aku terpaksa ngasih "uang kopi" (istilah baru, selain "uang rokok") ke petugas boarding, dah harus merelakan gunting kuku + korek api, karena gak boleh dibawa masuk pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/changi1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/changi1.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Tapi dibalik musibah, ada hikmatnya. Setidaknya aku bisa merasakan pesawat yang mahal, menikmati suasana bandara internasional Changi yang mewah, dan menghirup udara Singapore yang cukup bersih. Sampe di bandara Changi sekitar jam 11 malam, waktu setempat. Setelah sukses melewati imigrasi dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;custom&lt;/span&gt;, aku serahkan barang titipan itu ke pihak yang berwenang, yang udah nunggu aku lama di Bandara. Urusan beres dan .... hmmm .. bingung mau ngapain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gak punya banyak waktu di Singapore, soalnya &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/changi2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/changi2.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;tiket kembali sudah dipesan, jam 10 pagi. Benar-benar kejam ... apalagi waktu di Singapore 1 jam lebih awal dibanding Jakarta. Malam itu, aku mencoba menikmati suasana malam di Changi. Dengan uang seadanya, rasanya sayang kalau harus menginap di hotel. Bosku bilang, bandara Changi sangat lengkap. Ada teater, ada kolam renang (:p~), pertokoan lengkap dan bahkan ada tempat duduk nyaman, khusus untuk pengunjung yang akan istirahat. Jadi, di tengah malam itu aku coba mengelilingi bandara (waktu itu aku udah berada di luar terminal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nemuin beberapa tempat makan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;money changer&lt;/span&gt;, McD 24 jam dengan layanan internet gratis, ruang tunggu (dengan kursi biasa yang gak terlalu nyaman kalau dipakai duduk) dan pusat informasi. Sama sekali gak ada kemewahan seperti yang kubayangkan :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali mutar-mutar di bagian luar terminal 2, aku putuskan untuk istirahat. Bukan nyari hotel atau penginapan, aku sengaja mau tidur di bandara. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/changi3.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/changi3.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Ada 2 tujuan. Pertama, untuk menghemat biaya, kedua agar aku besok punya waktu untuk jalan-jalan sebentar di kota  ini. Soalnya kalau  menginap di hotel, aku gak yakin bisa bangun pagi :))&lt;br /&gt;Jadi aku tidur di bandara, di kursi tunggu, gak perduli puluhan orang lalu-lalang... gak kenal ini :D Oh ya, sebelum tidur, aku sempat minta peta Singapore ke bagian informasi, gratis. Jadi aku bisa sedikit buat rencana, mau ngapain besok pagi. Nekat aja ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/changi4.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/changi4.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Besoknya, barulah aku bisa menikmati keindahan Bandara Internasional Changi. Setelah checkin dan masuk ke Terminalnya, wah, emang mewah. Di dalam banyak toko (standarlah, di bandara lain juga ada, meski tentu saja jauh lebih mewah dibanding CGK), tapi harganya tetap aja mahal. Ada internet gratis, termasuk meja khusus bagi mereka yang bawa notebooknya, meski aksesnya dibatasi selama 15 menit. Cukup kenceng juga bandwithnya. Di sini sempat online bentar, chat ma teman kantor :D. Cafe + resto tentu aja ada, ditambah dengan televisi layar lebar dengan sofa yang sangat nyaman. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/changi6.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/changi6.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Ada juga kolam ikan koi ... melengkapi keindahan taman dalam bandara itu, dan semua tanaman di sana asli, gak bukan imitasi kayak di CGK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun aku gak sempat ngunjungin kolam renang ataupun teaternya, tapi aku sempat juga merasakan kursi nyaman yang bisa buat tidur nyenyak. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/changi9.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/changi9.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Sayangnya, aku gak berani tidur, ... bisa-bisa ketinggalan pesawat, lebih repot lagi ntar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan ya bisa datang lagi :-? .........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-114081734920329567?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/114081734920329567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=114081734920329567&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114081734920329567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114081734920329567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/02/lost-in-changi.html' title='Lost in Changi'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-114070063827906672</id><published>2006-02-07T19:48:00.001+07:00</published><updated>2011-02-22T13:12:53.103+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Transportation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='City'/><title type='text'>Ini Medan, Bung!!!</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/beca1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/320/beca1.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meski cuma lewat, namun tetap aja ada kenangan khusus saat mengunjungi, eh, melewati kota ini. Waktu nyampe sana, cuaca lagi hujan, jadi kondisi panas yang digembar-gemborkan orang tentang kota medan, gak terlalu terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski cuma sesaat, ada pilihan bisa kubuat kalau nanti aku harus melewati kota ini lagi. Pilihan itu adalah beca motor :)). Semula, karena gak mengenal kondisi kota, aku (dan rombongan ... iyalah, wong berlima), ngikut aja perintah sang "pemandu" untuk naik taksi dari Polonia ke Terminal. Emang sih, beberapa teman yang aku tanyain sebelum ke kota ini menganjurkan aku naik taksi aja. Dan hasilnya ... walah-walah, bukannya kenyamanan, malah was-was. Sopir taksinnya nyopir taksi kayak nyupir angkot ... seriusss .. gak jauh beda kayak angkot-angkot di Jakarta. Ngebut, motong jalan, nyelip kanan kiri sesuka hati. Meski hasilnya lebih cepat nyampe, tapi ya, sebagai pelancong kami gak sempat merasakan suasana kota Medan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, waktu pulang, kami nyobain naik beca motor. Pertimbangan pertama, lebih murah. Yang kedua, biar lebih&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/beca.0.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/320/beca.0.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt; nyantai, lagipula gak terlalu buru-buru, sekalian mau nyari oleh-oleh. Setelah  tawar-menawar, disepakati harga 20 ribu dari Terminal ke Polonia (50% lebih murah dibanding taksi). Akhirnya, bisa juga menghirup udara kota Medan, yang memang panas, meski polusinya belum separah Jakarta. Angin semilir begitu terasa, karena becaknya semula gak tertutup. Bisa lirak-lirik kanan kiri, dikit-dikit mencoba membaca dan mengingat nama jalan yang dilalui ... wah, sueerrrr .. gak ada satupun yang inget :D. Tahu-tahu dah nyampe Polonia lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dari pintu keluar bandara, jalan dikit (ya, sekitar 300 meteran lah), udah ketemu jalanan dalam kota. Jadi kalau gak banyak bawa barang, mending jalan kaki aja terus nyari beca ini, lebih sehat, lebih ngirit. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/beca2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/320/beca2.jpg" style="cursor: pointer; display: block; float: right; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;Tapi kalau barangnya seabrek, jangan sekali-kalai maksain naik beca :D Bisa-bisa pingsan sebelum check in. Soalnya beca gak boleh masuk bandara, beda dengan taksi. Dan dari pintu masuk (tempat beca berhenti) ke tempat keberangkatan pesawat lumayan jauh, mungkin hampir 400 meteran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-114070063827906672?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/114070063827906672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=114070063827906672&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114070063827906672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114070063827906672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/02/ini-medan-bung.html' title='Ini Medan, Bung!!!'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22892217.post-114070641653793122</id><published>2006-02-06T21:33:00.001+07:00</published><updated>2011-02-22T13:11:24.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lake'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera'/><title type='text'>Parapat, ...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Sejuk di Tepi Danau Toba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak kusangka, bisa juga aku  menginjakkan kaki di tanah Sumatera. Tempat pertama yang kutuju &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/parapat1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/parapat1.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;adalah Parapat, salah satu tempat di tanah Batak. Kebetulan aja Masku satu-satunya dapat istri orang sana, jadi terpaksalah aku melancong ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini ... .hehehehe, orang sana nyebut Parapat sebagai kota, tapi orang-orang yang sirik gak mau ngakuin, soalnya emang kecil, apalagi dia hanyalah sebuah desa, tapi biarlah disebut kota ... letakknya persis di pinggir Danau Toba, -- yang katanya danau terbesar di Indonesia (bener gak sih :-?). Kota ini berada di jalur lintas Sumatera. Jadi kalau dari Padang mau ke Medan, pasti melewat&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/parapat2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/parapat2.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;i kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini ndak cocok buat orang yang alergi dingin, soalnya tempatnya sama dinginnya (atau mungkin lebih dingin) dibanding Puncak, Bogor. Katanya sih, sekarang udah gak terlalu dingin gara-gara hutannya ditebangi oleh Indorayon. Yah, entah benar atau gak, tapi emang waktu di sana kalau malam+pagi dingin banget. Kalau siang sih, selama cuaca cerah, cukup panas, meski gak sepanas Cikarang ;))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota ini juga &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/parapat3.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/parapat3.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;ndak cocok buat orang yang phobia liat bunga. Maklum, di tempat yang dingin dan sejuk, pastilah banyak bunga tumbuh subur. Meski aku gak nemuin tempat semacam Villah Istana Bunga di Lembang,  tapi bunga bertebaran hampir di setiap rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal makanan, hmm ... bingung juga, soalnya gak sempat keliling-keliling untuk nyobain makanan khas sana. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/parapat8.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/parapat8.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Di sini, dan kayaknya di hampir seluruh tanah Batak, bertebaran warung sederhana, yang mereka sebut Lapo. Hidangannya khas Batak, yang tentu saja haram, dan juga minuman tuak (entah gimana rasanya, gak pernah nyoba). Tapi jangan kuatir, kalau kalian gak bisa, gak mau atau gak suka makanan haram, banyak juga rumah makan Muslim (dan jelas-jelas mereka pasang tulisan itu, biar mudah dikenali). Jadi gak perlu takut kelaparan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/parapat6.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/parapat6.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Tentang Danau Toba, wuiiihhhh .... akhirnya nyampe juga di sini. Meski cuma sempat sehari jalan-jalan di sana, tapi lumayan lah, dah pernah melihat, mendengar dan merasakan Danau ini. Hamparan air tawar yang paling luas yang pernah kulihat. Kedung ombo dan waduk Gajahmungkur gak ada apa-apanya. Udah gitu airnya jernih, sampai-sampai, kalau cuaca cerah, di pantainya ikan-ikan bisa kelihatan. Di sini ada fasilitas speedboat, perahu bebek, atau kapal menuju pulau Samosir ... dan gak satupun aku nikmati :)&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/parapat7.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/parapat7.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel juga beterbaran di tepi danau Toba ini. Mereka sengaja dibangun persis ditepi danau, jadi kalau pelancong mau mandi, tinggal loncat aja :)). Ngomong-ngomong soal mandi, banyak anak, entah penduduk asli atau pelancong yang mandi di danau ini, ... membuatku teringat masa kecil, waktu belajar renang di sungai di kampung :))&lt;br /&gt;Pengen juga rasanya ikutan nyemplung ke danau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/parapat5.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/parapat5.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Oh ya, angkutan umum di kota ini cuma satu, angkot. Jalurnya juga cuma satu, memutar dan satu arah. Ongkosnya, waktu itu, 2000 perak sekali jalan. Gak perlu takut nyasar di sini, kotanya kecil, dan hampir setiap orang saling kenal kayaknya. Tapi ada juga kayaknya bis khusus buat wisatawan, tapi gak tahu pasti aku.&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/parapat4.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/parapat4.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/1600/parapat9.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3758/886/200/parapat9.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22892217-114070641653793122?l=dijalan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dijalan.blogspot.com/feeds/114070641653793122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22892217&amp;postID=114070641653793122&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114070641653793122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22892217/posts/default/114070641653793122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dijalan.blogspot.com/2006/02/parapat.html' title='Parapat, ...'/><author><name>Yudi Kurniawan</name><uri>https://profiles.google.com/117984309796924577741</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh3.googleusercontent.com/--HKdwJjLu18/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFnM/oRQ7t8yLAxM/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry></feed>
