Saat masih tinggal di kantor lama di Cikarang, khususnya waktu kantor berada di Ruko Roxy, ada beberapa kucing yang sempat singgah dan tinggal di kantor juga menemaniku. Ada yang cuma mampir minta makan dan numpang nginep, tapi tak bertahan lama. Tapi ada dua kucing yang sempat sengaja aku pelihara di loteng ruko.
Aku sendiri bukan pecinta kucing, tapi aku gak masalah dengan binatang peliharaan. Apalagi semakin lama yang tinggal di kantor makin berkurang, jadi ada untungnya juga punya kucing sebagai teman dan untuk mengisi waktu luang. Setelah aku pindah kantor dan tempat tinggal, kepikiran buat berkisah tentang kucing-kucing yang sempat mampir di kantor, yang tidak hanya lewat tapi sempat menjadi bagian dari kantor meskipun sebentar.
Yang pertama adalah Anggoro. Kucing ini tergolong kucing yang hobi mampir ke kantor, baik untuk minta makan ataupun menginap. Aku tidak memeliharanya secara langsung, tapi dia sering datang ke kantor lewat atas ruko, kadang tidur di atas, tapi sering juga dia turun dan masuk ke ruangan kantor untuk tidur di antara meja-meja kantor. Nama Anggoro sendiri pemberian dari Deni, plesetan dari anggora.
Anggoro termasuk lama berada di kantor, bisa dibilang berbulan-bulan, meskipun tidak rutin. Dia datang dan pergi sesuka hati, kadang saat datang wajahnya memelas minta makan.
Suatu pagi, waktu itu aku sering tidur di lantai satu, aku mendengar ada suara kucing kecil mengeong cukup keras. Penasaran, aku menengok keluar dan mendapati ada seekor kucing duduk di tengah jalan sambil mengeong. Merasa iba, aku langsung membawanya masuk ruko dan kuberi minum. Waktu sarapan, sengaja aku memilih menu yang ada telor dan daging, ternyata dia mau.Kucing ini suka berkeliaran, dan uniknya sempat masuk ke kamar mandi dan berdiri di toilet. Beruntung aku sempat mengabadikan momen itu, jadi terkesan kucingnya buang air di toilet heheheh ... padahal dia cuma nongkrong. Saat pertama kutemukan, moncongnya terlihat hitam, kupikir memang warnanya seperti itu. Tapi setelah Arik memandikannya, moncong kucing kecil itu dibersihkan, ternyata bukan warna kulit melainkan kotoran. Kucing ini lucu, dan suka tidur di kasurku.
Selama beberapa hari aku terpaksa berbagi kasur dengan kucing kecil manja ini. Kucing ini kuberi nama Yanti. Kalau teman-teman tanya, kok namanya Yanti, kujawab: gabungan dari diYan TrIsni wkwkwkw ... Tapi kucing ini gak lama di kantor, sepertinya gak sampai seminggu. Suatu hari aku pergi ke Jakarta dan kucing ini pergi keluar kantor dan tak kembali lagi.
Nah berikutnya adalah kucing-kucing yang sengaja kupelihara di kantor, dan mereka cukup jinak, gak keluyuran.
Pertama adalah Katrok. Mengapa namanya Katrok? Iseng aja, spontan. Terlintas dalam benakku, kalau cewek kan namanya Catty, nah kalau cowok biar agak pas ya Cattrock aka Katrok :D.
Kucing ini aku temukan di jalan. Suatu sore aku dan Wahyu berniat membeli makan sambil jalan-jalan ke arah cluster MyHome, karena ada warteg yang cukup bersih, murah dan enak. Di sebuah selokan dekat sawah aku mendengar suara kucing kecil berwarna orange. Aku hampiri dia dan aku usap-usap sebentar, eh dia mengikutiku. Aku mempercepat jalan hingga kucing itu tertinggal dan berhenti mengejar.
Sepulang dari warteg aku sengaja membeli ikan goreng, siapa tahu aku ketemu lagi dengan kucing kecil tadi. Ternyata benar, kucing kecil itu masih ada di tempat semula, masih mengeong di antara rerumputan. Aku coba panggil dia, kalau memang dia mau terus mengikuti, akan aku pelihara. Jarak dari kantor ke tempat kucing itu berada sekitar 300 meter. Kucing itu terus mengikutiku, meskipun sempat berhenti sejenak, namun terus mengejarku. Ya sudahlah, aku pelihara saja. Aku letakkan di lantai atas, di loteng tempat kami mencuci baju, menyimpan baju dan kadang kupakai tidur juga (ada dipan kayu yang bisa dipakai). Esoknya aku memandikan kucing itu biar lebih segar.
Katrok ternyata tergolong kucing yang lincah, sangat lincah. Dia suka berlarian, memanjat tembok dan rak buku, serta ketika mampu, dia memanjat hingga atap dan loteng jeruji besi. Kadang dia bermain ke atap tetangga, namun selalu pulang saat aku panggil. Anehnya, dia tidak berani turun tangga. Paling banter dia duduk di anak tangga paling atas, tidak lebih. Heran, benar-benar kucing kuper. Kalau ada kucing liar yang datang, dia ngumpet ketakutan. Pernah aku menjumpai dia sedang meringkuk di anak tangga paling atas dengan bulu-bulu berdiri. Ternyata ada kucing liar yang datang, padahal ukuran fisiknya hampir sama.
Sayangnya, Katrok kurang disiplin dalam hal buang air. Dia sering buang air di sembarang tempat, bahkan seringkali buang air besar di tumpukan baju kami. Apalagi kalau dia sakit. Aku sudah sediakan tumpukan pasir di luar, dan memang lebih sering dia gunakan pasir itu untuk buang air. Sayangnya terkadang dia masih suka buang air sembarangan juga. Kadang aku kasihan dengan teman-teman yang bajunya kena kotoran kucing dan kalau aku tahu, aku sengaja mencucikan pakaian mereka karena akulah yang memelihara kucing.Nah, yang paling sering adalah Katrok pipis di kasur dan selimutku. Dia memang suka tidur di atas selimut diantara kakiku, dan sering saat bangun tidur aku mendapati selimutku sudah basah oleh kencing si Katrok. Sangat menjengkelkan. Kadang saat aku baru menggelar kasur, dia langsung meloncat di atasnya dan .... kencing!. Kurasa dia menemukan tempat yang empuk dan nyaman untuk buang air. Aku coba mengatasi dengan meletakkan koran di atas kasur di bawah sprei. Entah mengapa cari itu berhasil, meskipun saat kasur kupakai jadi bunyi kresek-kresek dari kertas koran tersebut.
Kucing kedua yang kupelihara di kantor berwarna hitam putih. Aku panggil dia Eki, alasannya sederhana: di kantor ada yang bernama Eko dan Eka :))
Kucing ini juga aku temukan tidak sengaja waktu aku pulang dari beli makanan bersama Wahyu. Sebenarnya aku gak sadar kalau ada kucing kecil di pinggir jalan karena kondisi jalan agak gelap saat itu. Justru Wahyu yang menyadari adanya kucing kecil di antara kerikil dan aspal, persis di depan cluster Napoli. Fisiknya lebih kecil dibanding Katrok waktu pertama kutemukan, jadi aku gak bisa berharap dia akan mengikuti hingga kantor. Kuperhatikan tempat dia berada jauh dari rumah-rumah warga ataupun warung. Aku kasihan dan memutuskan untuk memeliharanya. Untuk mendramatisasi ukuran kucing yang mungil, aku taruh di kantong bajuku dan meminta Wahyu memotret hehehe. Bayi kucing itu nampak kelaparan.
Ternyata memang Eki sangat kelaparan waktu kutemukan. Di rumah masih ada sisa makanan dan Eki langsung melahapnya dengan rakus. Katrok yang merasa terancam dengan kedatangan kucing asing di daerah kekuasaannya mulai mengganggu. Dia berani karena ukuran fisik Eki jauh lebih kecil. Berkali-kali Katrok mencoba mencakar dan menggigit Eki, tapi Eki yang kelaparan tidak terlalu peduli, tetap rakus melahap makanan yang ada. Lama-lama aku kasihan dan memisahkan Eki dari Katrok, meletakkan Eki di atap ruko tetangga. Tetap saja Katrok mengejar meskipun tidak segencar semula.
Selama dua hari aku melihat Katrok masih memusuhi Eki dan aku masih memisahkan mereka. Aku sempat frustrasi dan berencana mengeluarkan Eki dari rumah, daripada disiksa oleh Katrok. Tapi kata Arik, Katrok sebenarnya tidak benar-benar memusuhi Eki. Mungkin awalnya iya, karena merasa terganggu, tapi hari-hari selanjutnya justru sikap Katrok itu adalah sikap teman yang mengajak bermain. Sayangnya ukuran fisik mereka gak sebanding, dan Eki belum berminat untuk bermain karena masih terlihat kelaparan. Di hari ketiga ternyata mereka mulai akrab dan aku tidak lagi memisahkan mereka. Makin lama mereka makin akrab bahkan tidurpun sering bersama.
Tak lama setelah Eki kutemukan, dia sempat "menghilang". Ceritanya aku mendapati Katrok pipis di atas kasur busaku, yang kain penutupnya sudah mulai berlubang sehingga busanya terlihat. Aku segera mencuci kasur itu, tapi hanya bagian yang dikencingi saja dan langsung kujemur keluar. Anehnya, Eki sudah tidak kelihatan lagi. Aku coba panggil gak muncul juga. Cuma ada Katrok yang terus aktif bermain. Suara Eki memang kecil waktu awal-awal kutemukan, jadi mengeong-pun tidak kencang. Waduh, hilang kemana. Gak mungkin dia kabur jauh, wong belum bisa melompati tembok atau naik ke atap seperti Katrok. Gak mungkin dia keluar ruko, karena dia harus turun ke bawah sementara saat itu sudah malam dan ruko juga sudah ditutup. Aku mondar-mandir di atas atap ruko itu, mencari di setiap sudut tempat, kolong, tumpukan baju dan kardus, tetap saja tidak kutemukan. Sedih juga rasanya meskipun baru ketemu beberapa hari dengan Eki.Saat aku mulai pasrah dan menenangkan diri, sayup-sayup aku dengar suara kucing, sangat lirih dari arah jemuran. Aku keluar dan mencari tiap sudut. Saat itu gelap karena di bagian luar memang tidak ada lampu. Tetap aku tidak menemukan. Kudengar lagi suara lirih kucing mengeong. Lama-lama kok sepertinya suara itu ada di kasur yang sedang kujemur. Mungkinkah ada kucing di situ? Penasaran, aku geledah kasur itu.... dan benar. Eki sedang bergelantung di kasur, dengan ketakutan menancapkan kukunya di kasur agar tidak jatuh. Rupanya dia ada di dalam kasur itu, di rongga antara busa dan kain penutupnya, dan aku tidak menyadarinya. Cukup lama dia bergelantungan di situ dengan ketakutan. Ah, lega juga rasanya. Besoknya Eki mencret :D
Eki sedikit lebih tertib dibanding Katrok dalam hal buang air dan Eki lebih rakus dalam urusan makan. Katrok terkesan memilih-milih, tidak suka nasi atau makanan kucing yang kering. Katrok lebih suka ikan atau daging, sedangkan Eki kadang masih mau makan nasi, telur atau makanan kering. Tapi Eki punya kebiasaan lebih menyebalkan saat tidur. Kalau Katrok cukup puas tidur di dekat kakiku, tidak demikian dengan Eki. Dia paling suka tidur di atas bantal, dan seringkali kepalanya disandarkan ke leherku. Sudah berulang kali kuusir dengan kulempar ke lantai, tetap saja dia kembali dan menduduki bantalku dan menempel di leherku. Yang paling kurang ajar, dia berjalan di atas badanku, dan seringkali mengendus-endus wajahku. Tapi berbeda dengan Katrok yang kuper, Eki suka keluyuran. Dia tidak takut menuruni tangga dan keluyuran di ruangan kantor, bahkan sampai lantai 1. Waktu itu kantor merupakan ruko dengan 2 lantai, dan di atas (atap/loteng) ada bangunan semi permanen, disitulah aku memelihara kucing. Dian dan Dessy sering protes karena Eki keluyuran di ruang kantor, apalagi saat berada di dekat kaki mereka. Biasanya aku langsung menyuruh Arik untuk membawa Eki ke atas dan menutup pintu.Saat aku menikah dan tinggal di Jakarta, terpaksa aku melepaskan kucing-kucing itu. Kontrakanku waktu itu tidak memungkinkan untuk memelihara kucing, meskipun istriku adalah pecinta kucing sejati dan merasa senang dengan Katrok dan Eki. Apalagi di kantor tidak ada yang mau memelihara kucing itu dan aku merasa gak enak kalau kucing itu menjadi gangguan. Beberapa hari setelah aku pindah ke Jakarta, aku bawa Katrok dan Eki keluar ruko dan melepas mereka.
Katrok sangat ketakutan saat aku bawa turun tangga, sampai terkencing-kencing. Parahnya, aku tidak mengantisipasi hal itu, dan bajuku basah kena air kencing kucing itu. Katrok yang biasanya jinak, saat berada di luar ruko, tempat yang asing bagi dia, langsung menjadi seperti kucing liar. Dia bingung dan berlarian kemana-mana. Waktu kupanggil pun dia tidak mendekat, malah merasa seperti tidak kenal. Aneh. Tidak demikian dengan Eki. Memang dia merasa aneh dengan lingkungan yang baru, namun dia tetap mengenaliku. Beberapa kali dia mencoba masuk kembali ke kantor, dan waktu aku ketemu Eki dia masih mengenaliku dan mendekatiku untuk minta makan. Eki masih sempat terlihat setelah beberapa minggu aku lepaskan, namun aku tidak pernah lagi melihat Katrok sejak hari pertama aku melepas dia.

0 comments:
Post a Comment