![]() |
| Andong, salah satu alat transportasi tradisional yang masih bertahan di Malioboro, di tengah hiruk pikuk kendaraan bermotor yang menyebar polusi. |
Saat aku masing tinggal di Jogja, sejak kecil hingga lulus SMU, aku tidak terlalu memahami daya tarik tempat itu. Apalagi aku jarang keluyuran malam, apalagi sampai jauh dari rumah. Bagiku, Malioboro cuma identik dengan toko Ramai, apalagi sebelum ada MM. Aku kurang suka belanja atau sekedar melihat-lihat di sepanjang trotoar jalan itu. Selain isi dompet yang pas-pasan, juga harganya mahal meskipun bisa ditawar. Suasana makan lesehan di malam hari juga baru 1-2 kali kurasakan, karena harganya terlalu mahal bagi warga Jogja pada umumnya.
![]() |
| Bareng Andri di Malioboro |
Sayangnya belakangan ini aku merasa ada yang kurang, malah terkesan mengganggu saat mengunjung Malioboro. Terlalu padat. Macet, apalagi saat liburan. Kepadatan kendaraan bermotor membawa polusi yang mengganggu kenyamanan. Ini Jakarta atau Jogja ya? Untung masih ada andong dan becak yang membuatku yakin kalau aku masih di Jogja.
Aku mulai berkhayal, mungkinkah Malioboro ditata ulang. Malioboro sebagai salah satu icon kota Jogja, sebaiknya bisa dikemas lebih modern tapi tetap mencerminkan budaya Jogja. Malioboro tidaklah pas menjadi pusat bisnis. Malioboro lebih cocok menjadi pusat seni dan budaya. Selain itu, lalu-lintas di sana harus dibenahi. Kalau perlu jadikan Malioboro sebagai zona bebas kendaraan bermotor. Jakarta aja punya car free day, mengapa Jogja tidak? Biarkan andong, becak dan sepeda yang melintas di jalan ini, mengiringi para wisatawan. Suasana Jogja pasti akan sangat terasa istimewa. Di tahun 90an, Jogja masih dipenuhi dengan sepeda, suatu pemandangan yang menarik dan ngangenin.
![]() |
| Salah satu instalasi seni yang dipasang di Malioboro saat Jogja Biennale |
Selain itu, areal trotoar bisa juga dikemas untuk mendukung aktivitas seni dan budaya. Bisa dengan menyediakan areal khusus untuk pentas seni terbuka, atau sekedar memajang karya seni. Tanpa kendaraan bermotor, pawai atau festival budaya akan lebih mudah dilakukan.
Mungkinkah pemkot Jogja telah memikirkan atau merencanakan hal ini? Moga saja …



0 comments:
Post a Comment