Jejak Kaki

Ke mana pun angin berhembus menuntun langkahku
Memahat takdir hidupku di sini
Masih tertinggal wangi yang sempat engkau titipkan
Mengharumi kisah hidupku ini -- PADI

03 July 2006

Di Pasar Senen...

mBuang waktu, mondar-mandir antar Stasion dan Atrium Senen.


Akhirnya, bisa juga aku ke Semarang, setelah dua bulan lebih "absen". Belakangan, aku lebih memilih naik kereta ekonomi, dari St. Pasar Senen ke St. Poncol. Selain murah-meriah (50% harga bis AC atau kereta bisnis), lebih santai (tidak buru-buru karena kereta berangkat jam 21:20, dan selalu telat) sampai di tujuan sudah cukup siang (jadi gak perlu bengong di stasion). Lagipula, untuk jalur utara, rata-rata pedagang asongan tidak terlalu banyak, pengamen juga jarang.

Kebetulan hari Jumat itu aku ada meeting di daerah Jakarta, customer baru, dan sebelum makan siang sudah selesai. Daripada bolak-balik ke Cikarang lagi, capek dan buang waktu+ongkos, mending aku bolos aja habis meeting. Tujuan sebenarnya biar bisa beli tiket duluan, daripada kehabisan tempat duduk. Maklumlah, hari biasapun kereta ekonomi ini laris manis, apalagi akhir pekan, meski belum musim liburan.

Setelah berpanas-panas nunggu busway di Pecenongan (heran, lama amat busway-nya, apalagi calon penumpang banyak, jadi mandi sauna di halte) lagi-lagi harus kecewa waktu tiba di stasion Pasar Senen. Ternyata loket untuk kereta ekonomi itu (KA Tawang Jaya), baru buka jam 6 sore. Waduh ... ngapain 4 jam nih :((, ditambah lagi kereta baru berangkat jam 10-an (karena telat), ... tambah bengong lagi donk :( Semula rencanaku, kalau bisa dapat tiket duluan, minimal aku bisa menjelajah Jakarta, tapi dengan waktu yang serba nanggung itu, pusing juga. Apalagi kemacetan di Jakarta membuat kita susah memprediksi waktu. Ya udah, jadinya aku bengong aja, mondar-mandir di sekitar St. Pasar Senen, jalan-jalan di Atrium Senen.

Seingatku, dalam pelajaran sejarah, aku belum pernah mendengar tentang adanya pertempuran yang cukup terkenal terjadi di kawasan Pasar Senen ini. Tapi ternyata setidaknya ada 2 tugu/monumen perjuangan di kawasan ini (setidaknya yang dekat dengan stasion). Pertama di dekat pintu masuk sebelah Timur (dengan halaman yang cukup luas), dan satu lagi persis di depan pintu masuk utama (selatan) stasion. Kedua tugu itu berisi patung yang menggambarkan semangat perjuangan, kemanunggalan tentara dan rakyat dan berjuang melawan penjajah. Setidaknya ada patung tentara, rakyat biasa (petani), bahkan anak-anak. Sayang, aku tidak sempat membaca keterangan yang ada di patung tersebut (entah ada atau nggak :-?). Mungkin dulunya stasion ini sering dipakai untuk transportasi para pejuang :D

Waktu jalan-jalan ke Atrium Senen, tanpa sengaja aku melihat wajah seseorang yang rasanya aku kenal (meski setengah nggak percaya), orang Papua dengan badan tinggi besar. Ternyata benar ... Bang Edu (Eduard Yumame), dulu teman gereja waktu di Jogja-Bandung, namun sekarang sudah menjadi aktivis buruh di Papua. Dia juga terkejut melihatku. Rupanya dia sedang mengikut kongres partai buruh di Jakarta, bersama istri dan teman-temannya. Kami sempat jalan-jalan sebentar, ngobrol tentang banyak hal sebelum akhirnya berpisah. Lumayan lah, setidaknya ada teman untuk "membuang waktu" :).

Bosen di Atrium Senen (baru sadar, meski cukup besar, tapi mal ini cukup membosankan juga, apalagi memang gak ada niat belanja), aku balik lagi ke stasion. Aku nongkrong di depan stasion, jepret kanan-kiri, terus pindah ke sebelah timur (dekat monumen). Di sini cukup banyak orang main bola, ada juga yang sekedar nongkrong-nongkrong menikmati suasana senja (termasuk preman yang sempat minta duit 1000 buat makan). Kasihan juga anak-anak di Jakarta ini, gak ada lahan kosong, terpaksa main sepakbola di atas ubin, sempit lagi. Seingatku, waktu itu ada 3 pertandingan berlangsung di daerah monumen itu :))

Akhirnya aku sukses beli tiket, setelah nongkron di depan loket selama hampir setengah jam. Ternyata banyak juga yang udah nunggu sejak lama. Selesai beli tiket .. bingung lagi, ngapain 3 jam lebih :(
Kuputuskan balik lagi ke Atrium Senen. Tiduran sebentar di ruang tunggu bioskop, sebelum akhirnya makan malam di Solaria sambil baca buku ampe hampir jam 9. Fuiihhh .... capek juga hari itu :(

1 Comments:

  • At 7:43 PM, Blogger Aku Ingin Pintar said…

    salam kenal.
    kebetulan nyasar disini, tapi nggak nyesel kok ;)
    blog yang menarik.

    saya awam fotografi. tapi dekat stasiun senin ada pasar loak poncol. mungkin bisa jadi obyek yang menarik juga.

    good luck

     

Post a Comment

<< Home