06 February 2006

Parapat, ...

Sejuk di Tepi Danau Toba

Gak kusangka, bisa juga aku menginjakkan kaki di tanah Sumatera. Tempat pertama yang kutuju adalah Parapat, salah satu tempat di tanah Batak. Kebetulan aja Masku satu-satunya dapat istri orang sana, jadi terpaksalah aku melancong ke sana.

Kota ini ... .hehehehe, orang sana nyebut Parapat sebagai kota, tapi orang-orang yang sirik gak mau ngakuin, soalnya emang kecil, apalagi dia hanyalah sebuah desa, tapi biarlah disebut kota ... letakknya persis di pinggir Danau Toba, -- yang katanya danau terbesar di Indonesia (bener gak sih :-?). Kota ini berada di jalur lintas Sumatera. Jadi kalau dari Padang mau ke Medan, pasti melewati kota ini.

Kota ini ndak cocok buat orang yang alergi dingin, soalnya tempatnya sama dinginnya (atau mungkin lebih dingin) dibanding Puncak, Bogor. Katanya sih, sekarang udah gak terlalu dingin gara-gara hutannya ditebangi oleh Indorayon. Yah, entah benar atau gak, tapi emang waktu di sana kalau malam+pagi dingin banget. Kalau siang sih, selama cuaca cerah, cukup panas, meski gak sepanas Cikarang ;))

Kota ini juga ndak cocok buat orang yang phobia liat bunga. Maklum, di tempat yang dingin dan sejuk, pastilah banyak bunga tumbuh subur. Meski aku gak nemuin tempat semacam Villah Istana Bunga di Lembang, tapi bunga bertebaran hampir di setiap rumah.

Soal makanan, hmm ... bingung juga, soalnya gak sempat keliling-keliling untuk nyobain makanan khas sana. Di sini, dan kayaknya di hampir seluruh tanah Batak, bertebaran warung sederhana, yang mereka sebut Lapo. Hidangannya khas Batak, yang tentu saja haram, dan juga minuman tuak (entah gimana rasanya, gak pernah nyoba). Tapi jangan kuatir, kalau kalian gak bisa, gak mau atau gak suka makanan haram, banyak juga rumah makan Muslim (dan jelas-jelas mereka pasang tulisan itu, biar mudah dikenali). Jadi gak perlu takut kelaparan di sana.

Tentang Danau Toba, wuiiihhhh .... akhirnya nyampe juga di sini. Meski cuma sempat sehari jalan-jalan di sana, tapi lumayan lah, dah pernah melihat, mendengar dan merasakan Danau ini. Hamparan air tawar yang paling luas yang pernah kulihat. Kedung ombo dan waduk Gajahmungkur gak ada apa-apanya. Udah gitu airnya jernih, sampai-sampai, kalau cuaca cerah, di pantainya ikan-ikan bisa kelihatan. Di sini ada fasilitas speedboat, perahu bebek, atau kapal menuju pulau Samosir ... dan gak satupun aku nikmati :)

Hotel juga beterbaran di tepi danau Toba ini. Mereka sengaja dibangun persis ditepi danau, jadi kalau pelancong mau mandi, tinggal loncat aja :)). Ngomong-ngomong soal mandi, banyak anak, entah penduduk asli atau pelancong yang mandi di danau ini, ... membuatku teringat masa kecil, waktu belajar renang di sungai di kampung :))
Pengen juga rasanya ikutan nyemplung ke danau itu.

Oh ya, angkutan umum di kota ini cuma satu, angkot. Jalurnya juga cuma satu, memutar dan satu arah. Ongkosnya, waktu itu, 2000 perak sekali jalan. Gak perlu takut nyasar di sini, kotanya kecil, dan hampir setiap orang saling kenal kayaknya. Tapi ada juga kayaknya bis khusus buat wisatawan, tapi gak tahu pasti aku.

7 comments:

nuar said...

jalur angkutan dari polonia ke medan gimana ya..?
thx..

*numpangtanyamaukesanarencananya*

Yudi K. said...

Nuar,
Setahuku ada 3 alternatif:
1. Taksi, paling gampang, bisa langsung dari bandara, ongkos mahal (50 ribuan ke terminal)
2. Beca motor, harus jalan kaki dulu keluar bandara, ke arah jalan raya (sekitar 200-300m)
3. Angkot, juga harus keluar bandara, ke arah jalan raya (200-300m). Tapi jalurnya saya nggak tahu, soalnya belum sempat nyoba.

Ntar jangan lupa oleh-olehnya ya :D

Salam,

Anonymous said...

For "Ivn Hrwty Mnk" (wherever you may find her)

Parapat?.. don't say that name plizzz, coz my heart gonna stop beating. Actually i never go there, even for once. My Ex (initial IHM), who left me without saying a words, was born and spent her childhood there. She used to tell me her "Parapat" and "Danau Toba".
Is it a sad story about me? I don't know, and i never know.

Thanks for nothing...

Sir Joacqhim said...

Horas..

Apa kabar yud ??

masih ingat ama papanya Raja ??

di cikarang pula,

thanks for this article, coz, every on can read based on your trully journey when you came to parapat

Saya sebenarnya sudah lumayan lama ga pulang kampung, tapi begitu lihat and baca artikel ini, sedikit mengurangi rasa rindu ini..

he..he..

masih ada foto kenangan di sana ?? posting lg dong.

Thanks

Dewa Sirait

Anonymous said...

hei, aq dari parapat looohh....
tp skrg lg kerja d jkt..

thanx banget da ceritain ttg parapat seindah itu,. karna emang bener2 indah!!

kalo dari polonia mo k luar, emang nae taxi sih. tapi jangan lupa tawar setengah!! hahaha..

kalo mo jalan jg gapapa..
gampang kok. karna bandaranya tidak sebesar sukarno-hatta.
jadi jalan kluar langsung keliatan..

best regards
-silv-

o y, kal k parapat, jangan lupa makan kari kambing rumah makan marina, apalagi yg pecinta pedas!! ada di jl. haranggaol..
have a nice trip

Naga Junior said...

Parapat....!!!!
Girsang II
Hebat

SMP N 1 Parapat said...

Sering sering mampir ke Parapat ya... ajak teman