Jejak Kaki

Ke mana pun angin berhembus menuntun langkahku
Memahat takdir hidupku di sini
Masih tertinggal wangi yang sempat engkau titipkan
Mengharumi kisah hidupku ini -- PADI

01 September 2006

Bandung Lautan Mal

Kota kembang yang sudah bertaburan mal

Waktu pertama kali datang ke Bandung, sepuluh tahun yang lalu, seingatku belum banyak mal. Waktu itu aku cuma ingat BIP (Bandung Indah Plaza, yang kadang disebut Plasa Bandung Indah), Sultan Plasa (di Cihampelas). Yah, setidaknya dua tempat tersebut paling sering kukunjungi semasa tahun-tahun awal kuliah, karena cukup dekat dengan kampus. Di tempat lain mungkin juga ada, tapi aku gak terlalu kenal.

Tempat-tempat keramaian lain masih kurang layak disebut mal, seperti Pasar Baru dan Kebon Kelapa, meski sekarang sudah direnovasi.

Selama 5 tahun aku kuliah, mal-mal baru mulai bermunculan. Mulai dari BEC (yang mau menjadi pusat elektronik), IP (Istana Plasa), BSM (Bandung Super Mal, yang megah tapi sepi karena terkesan mahal), dan BTC (Bandung Trade Center, yang menawarkan barang kualitas mal harga pasar :) ). Lokasi mal-mal pun mulai terpencar.

Setelah lulus kuliah, muncul lagi Molis di daerah lingkar selatan, yang pembangunannya bermasalah karena katanya pengembangnya gak bertanggung jawab. Selanjutnya muncullah Ciwalk di Cihampelas, yang lokasinya deket banget dengan kampus :) Kemunculan Ciwalk ini tampaknya membuat Sultan Plasa menjadi "mati". Terakhir aku lihat, plasa itu gak lagi beroperasi, entah akan dibongkar atau direnovasi. Selain itu, yang pasti jalan Cihampelas yang sempit itu jadi semakin padat dan macet.

Saat bulan Agustus kemarin aku ke Bandung bersama teman-teman kantor, ada satu mal yang baru selesai, Braga City Walk. Sesuai namanya, ada di jalan Braga. Aku pernah denger, kalau jalan Braga punya kenangan bersejarah bagi pariwisata kota Bandung, ibarat Malioboro di Jogja. Sayangnya waktu kami mampir ke sana, masih cukup sepi dan sedang direnovasi, jadi masih ribut dengan aktivitas proyek. Counternya juga kurang banyak. Makanya kami gak terlalu lama di sana, jadi kurang begitu mengenal isi mal baru tersebut.

Kedua mal terakhir, Ciwalk dan BCW, nampaknya dikembangkan dengan konsep yang agak berbeda dengan mal-mal sebelumnya. Kata temanku yang biasa jalan-jalan keluar negeri ... hiks, hiks, jadi ngeler ... konsep Ciwalk seperti mal-mal di Singapore, dimana areal mal tidak terbatas di dalam gedung, tapi juga di luar gedung. Deretan cafe dan counter tidak terpusat dalam satu gedung, namun berdiri sendiri-sendiri dalam satu areal pedestrial dan taman. Pengunjung dapat berjalan-jalan di udara terbuka, namun tetap bisa menikmati pemandangan cafe dan gerai-gerai busana. Apalagi lokasi Ciwalk berada di daerah atas, sehingga udaranya lebih sejuk, dan masih banyak pepohonan besar di sekitar daerah itu. Pokoknya beda deh :)

Satu lagi yang menarik di Ciwalk, ada smoking area di foodcourt yang terletak di sisi Timur, pada bagian paling atas. Smoking area ini ternyata suatu "teras", dengan udara terbuka. Dari tempat ini kita bisa memandang daerah Taman Sari Bawah (termasuk kebon binatang), kawasan Ciumbeuleuit, dan juga jembatan Paspati yang megah (sayangnya, terakhir aku kesana sudah dibangun areal parkir bertingkat yang menutup pemandangan jembatan itu).

PS: Ada satu "mal" lagi yang sempat populer di Bandung, yaitu Cimol, alias Cibadak Mal. Mal yang satu ini bukan berbentuk gedung, melainkan di sepanjang jalan Cibadak. Mal ini terkenal karena menyediakan pakaian-pakaian import yang murah. Jika pinter, kita bisa mendapat baju yang bagus dengan harga sangat murah. Sayangnya, karena sifatnya yang tidak resmi, keberadaan "mal" ini menuai protes pedagang asli setempat, terus dipindah ke lapangan Tegalega. Terakhir katanya dipindah lagi ke daerah Pasar Gedebage.

27 August 2006

Komposisi Favorit

Sekedar penggemar, bukan profesional.....

Aku bukanlah fotografer, wong kamera aja gak punya, juga gak ada latarbelakang fotografi. Meskipun aku gemar fotografi, sebagaimana halnya dengan seni yang lainnya, aku lebih menganggap diriku sebagai dokumentator.

Pada dasarnya aku gemar mendokumentasikan sesuatu, baik lewat tulisan maupun lewat gambar (foto). Ketika aku memotret sesuatu, tujuan utamaku adalah untuk keperluan dokumentasi, untuk mengabadikan sebuah momen, tempat, wajah, atau apapun. Dengan adanya gambar yang kudapat, aku harap suatu saat aku bisa bercerita, bahwa aku pernah berada dalam situasi seperti ini, mengalami ini-itu, berada di tempat ini, melihat benda seperti itu atau sekedar pernah melihat itu :D.

Namun bukan berarti aku mengabaikan masalah keindahan atau daya tarik dari gambar yang kuhasilkan. Ketika memungkinkan, aku selalu berharap gambar yang tercipta memiliki keindahan tersendiri, eye-catching, menarik dan enak dilihat. Namun adanya keterbatasan kamera yagn kupunya, juga keterbatasan kemampuan teknis fotografi yang kumiliki, aku lebih mengandalkan feeling, dan komposisi untuk bisa mendapatkan hasil yang cukup menarik. Beberapa komposisi menjadi favoritku, karena bagiku memberi cita rasa yang unik dan cukup menarik. (Istilah-istilah yang kugunakan bukan istilah standard fotografi, umumnya adalah istilahku sendiri, jadi maaf kalau kurang pas :) )

Komposisi ruang kosong.

Yang kumaksud dengan kompossi ruang kosong adalah adanya ruang kosong yang cukup luas, di luar objek utama yang menjadi fokus (POI = point of interest). Ruang kosong bisa berupa tembok, lantai, jalan, atau langit. Ruang kosong itu bisa berupa bidang satu warna (misal tembok putih atau langit biru), atau tekstur dengan pola khusus (misal ubin lantai atau lapangan parkir).

Bagiku, adanya ruang kosong ini memberi kesan lega, tidak sumpek, sehingga objek bisa lebih menonjol. Dengan adanya ruang kosong, POI lebih terfokus dan memiliki daya tarik tersendiri, karena seolah-olah memberi kesan bahwa hanay ada benda tersebut. Komposisi semacam ini banyak aku temukan dalam wallpaper-wallpaper desktop, dan adanya ruang kosong memberi tempat untuk kita memberikan tulisan dalam foto yang ada.

Komposisi siluet

Siluet adalah tampilan suatu objek yang berisi kerangka luar objek tersebut dan isinya secara solid, tanpa detil di dalam objek tersebut. Komposisi siluet selalu menarik, karena menampilkan bentuk (shape) dari objek yang umumnya berwarna gelap dan solid, sementara latar belakang memiliki warna yang lebih terang. Rata-rata foto siluet ini bisa kita dapatkan saat memotret objek atau pemandangan di senja hari ketika matahari terbenam, atau di fajar hari sebelum matahari muncul.

Namun sebenarnya, untuk menghasilkan foto siluet, tidak perlu menunggu matahari terbit atau tenggelam. Pertama kali aku menghasilkan foto siluet justru secara tidak sengaja. Waktu itu aku minum kopi di samping dapur, yang ruangannya cukup terbuka. Terus aku bikin potret diri dengan memanfaatkan fitur timer, dan menghasilkan gambar siluet yang cukup menarik. Setelah diulang-ulang, akhirnya aku berkesimpulan, bahwa foto siluet bisa kita hasilkan ketika kita berada di ruangan yang minim cahaya, sementara latar belakang (background) memiliki cahaya yang cukup terang. Contohnya, kita berada di kamar yang agak gelap dengan jendela yang menyediakan cahaya cukup. Ketika kita mengambil foto sebuah objek, mengarah ke sumber cahaya (jendela), biasanya akan menghasilkan foto siluet. Kualitas siluet yang dihasilkan tergantung pada perbedaan cahaya di depan dan belakang objek.

Untuk melihat contoh foto-foto siluet yang dahsyat, bisa dilihat di sini http://silhouettes.sytes.org/

Komposisi frame

Komposisi ini terbentuk ketika objek ada dalam jarak yang cukup jauh, sementara di latar depan (background) ada yang bentuknya mengurung objek utama, sehingga seperti membentuk frame. Biasanya objek yang menjadi frame/latar depan tidak terlalu jelas (blur), atau malah warnanya solid, sehingga nuansa frame cukup menonjol. Sementara objeknya (POI-nya) sendiri haruslah cukup tajam dan terfokus.

Seperti halnya ruang kosong, adanya frame juga membuat objek jadi lebih terfokus. Objek yang ada dalam frame, yang biasanya lebih tajam, mendapat porsi perhatian yang lebih banyak. Foto yang dihasilkan akan seperti foto hasil pengintaian, karena memanfaatkan celah yang terbentuk dari objek yang menjadi latar depan.

Frame sendiri bisa terbentuk dari bermacam-macam. Selama ini yang sering kutemui adalah pepohonan, termasuk bunga, dua benda yang bersebelahan, celah pintu/jendela, kerumunan orang, ranting pohon, tumpukan barang dan sebagainya. Pengaturan DOF (depth of field) yang tepat akan semakin memperindah hasil, dimana POI cukup tajam sementara latar depannya kabur (blur). Sayangnya, kemampuan kamera yang selama ini kupakai kurang bisa menghasilkan DOF yang ekstrem, karena tidak ada pengaturan manual, lagipula aku masih sangat amatir dalam teknik pengoperasiannya. :D

Komposisi Makro

Wuih, kalau ini benar-benar yang nomor satu, paling favorit, dan paling susah :(, dan sangat tergantung pada kemampuan zoom + DOF dari kamera yang kita punya. Sayangnya, sampai saat ini kamera (pinjaman) yang kupakai kemampuannya pas-pasan, sehingga foto makro yang bisa dihasilkan juga terbatas. Apalagi pengaturan fokus manual yang butuh konsentrasi dan kejelian, agar objek yang kita inginkan benar-benar mendapat fokus terbaik.

Foto makro adalah foto yang objeknya adalah benda-benda kecil, atau sangat kecil, misalnya serangga, bunga atau benda-benda kecil lainnya. Foto makro tidak hanya memperbesar gambar (zoom), tapi juga melibatkan pengaturan fokus pada gambar tersebut. Jadi kualitas foto makro juga tidak terlepas dari pengaturan DOF ketika memotret. Sekali lagi, kualitas kamera jelas memiliki peran besar. Hampir setiap kamera menyediakan fitur pemotretan makro, entah teknisnya seperti apa yang membuat dia beda dengan foto otomatis biasa.

Foto makro yang bagus bisa memfokuskan pada satu objek saja, atau satu bagian dari objek, sementara objek di sekelilingnya menjadi pudar/kabur (blur). Hal ini tentu saja membuat objek yang diinginkan semakin mendapatkan fokus atau pusat perhatian, karena pada umumnya lebih tajam dibanding sekelilingnya.

Komposisi Perspektif

Komposisi perspektif yang kumaksud adalah komposisi yang melibatkan benda-benda dengan garis-garis perspektif yang cukup menonjol. Hal ini biasa aku temukan waktu aku motret bangunan yang memanjang (misalnya ruko), jalan raya yang lurus, stasion kereta api, bangunan dengan lorong panjang atau jembatan penyeberangan.

Hal yang menarik dari komposisi ini adalah perspektifnya, itu aja. Dengan sudut tertentu, kita akan seperti mendapatkan garis-garis yang mengarah pada satu titik tertentu. Kadang, saat memotret jalan atau trotoar yang lurus cukup panjang, jalan tersebut akan mengarah pada satu titik, dan memberi kesan jalan tersebut tidak ada ujungnya :)

Komposisi Bukaan Lama

Istilah bukaan lama ini mungkin agak membingungkan. Aku ambil istilah ini, karena pada saat pengambilan foto dilakukan, diafragma terbuka dengan cukup lama, sampai ditemukan cahaya yang cukup untuk mendapatkan gambar yang bagus. Karena selama ini kamera yang kupakai adalah kamera digital dengan kemampuan terbatas, foto yang kuhasilkan dari bukaan lama ini terjadi secara tidak sengaja, karena aku memanfaatkan fitur otomatis.

Foto ini biasanya aku dapat waktu aku motret di ruangan yang cahayanya minim, misal di dalam ruangan tertutup atau ruangan dengan cahaya yang biasa atau kurang tajam. Dalam kondisi seperti ini, biasanya foto yang kuhasilkan selalu kurang tajam. Mungkin karena objeknya bergerak, atau tanganku yang memang goyang. Hal ini terjadi karena, kata Yohan, dalam pencahayaan yang minim kamera mencoba mengumpulkan cahaya yang pas sebelum menghasilkan gambar yang dinilai layak. Untuk itulah, diafragmanya terbuka cukup lebar, dan lensa kamera terbuka cukup lama. Karena waktu yang lama ini, saat terjadi gerakan dalam objek, gerakan itu akan terekam, menghasilkan gambar yang kabur.

Namun jika saat pengambilan dilakukan, ada objek yang posisinya tetap, maka objek itu akan cenderung mendapatkan fokus yang cukup jelas dan hasilnya cukup tajam, berbeda dengan objek lain yang bergerak, sehingga membentuk garis gerak (motion). Nah, justru ini menghasilkan gambar yang bagus. Objek yang diam, yang seringkali merupakan POI dari foto tersebut, akan terekam cukup tajam, sementara objek di sekitarnya menjadi kabur, bahkan seringkali memberi kesan dinamis.

Komposisi ini sebenarnya sama halnya dengan panning. Bedanya, kalau panning lebih ke arah objek yang bergerak seperti mobil atau motor. Aku belum pernah berhasil bikin foto panning ini, memang bikin pening dan pusing, susahnya minta ampun, apalagi kalau kamera gak mendukung. :(

10 August 2006

Ciumbeuleuit ... panorama

Panorama ciumbeuleuit dilihat dari atas Ciwalk.


Waktu terakhir ke Bandung, tanggal 5-Aug-2006 kemarin, mampir ke Ciwalk. Seperti biasa, setiap ke Ciwalk aku selalu mampir ke foodcourt yang ada dekat bioskop, bukan untuk makan, tapi karena ada areal no-smokin yang merupakan ruangan terbuka.

Dari area tersebut, bisa terlihat daerah Ciumbeuleuit, kebon binatang (yang menutupi ITB, dan sekalipun aku belum pernah kesana), juga daerah Tamansari bawah (tempat kos-kosan mahasiswa yang tergolong murah).

Iseng aja, aku motret daerah Ciumbeuleuit, dan bergeser ke arah Siliwangi serta kebon binatang, dengan tetap mempertahankan titik horisontal. Tujuanku adalah agar aku bisa nggabungin foto-foto itu jadi foto panoramic.

Setelah aku coba gabungkan foto-foto itu, secara komposisi bisa pas, ada 3 foto yang bisa digabungkan. Sayang sekali, pencahayaan yang kudapat gak bisa serupa, jadi kelihatan jelek. Makanya aku buat fotonya jadi hitam putih, sehingga ketiga foto itu bisa menyatu. :-? Jadi penasaran pengen buat foto panoramic (manual) lagi :)